Feeds:
Pos
Komentar

Zarqo

Duhai kawan,
tahukah kalian dengan Zarqo?
Apakah baru kali ini mendengar namanya
Atau sudah pernah mendengar kisahnya namun lupa ceritanya… Siapakah Zarqo?

Zarqo
Perempuan tua yang tinggal diujung kota Madinah
Tak banyak yang tahu tentang dirinya

Namanya terdengar asing
Bahkan di kalangan para sahabat besar
Tak banyak yang tahu Zarqo itu siapa
Namun, bagi Zarqo itu tak penting
Meskipun seisi dunia tak ada yang mengenalinya
Ia sudah cukup bahagia
Karena satu saja manusia yang mengenalinya
itu sudah cukup

Karena manusia satu-satunya yang mengenalinya adalah manusia agung
Kekasih Allah
Baginda Nabi Muhammad SAW
Beliau mengenali Zarqo

Setiap hari beliau tahu jika Zarqo datang ke masjid Nabawi hanya untuk menyapu lantai halaman masjid Nabawi
Zarqo melakukannya dengan penuh rasa cinta
Ya, karena cintanya kepada Nabi
Ia mampu berjalan dari kampungnya yang jauh dari kota Madinah hanya untuk menyapu halaman masjid Nabawi
hanya untuk melihat Nabi
Zarqo tak berani duduk di dalam bersama Nabi dan para sahabat
Ia hanya ingin melakukan sesuatu untuk yang ia cinta tanpa mengharap balasan

Nabi tahu itu
Bahkan Nabi menyapanya dan mengenalinya

Betapa senang hati Zarqo
Meski tak ada satupun orang yang tahu keberadaannya, tapi jika manusia agung sudah tahu, rasanya ia tak peduli lagi pada yang lain

Hingga ketika suatu hari Nabi tak melihat Zarqo datang ke masjid Nabawi selama beberapa hari
Rosul pun bertanya kepada para sahabat
kemana Zarqo
apa ada yang tahu kabar Zarqo
Para sahabat pun bingung
Saling bertanya siapa itu Zarqo
Mereka tak tahu menahu tentang Zarqo

Hingga ada seseorang yang mengetahui tentang Zarqo
Dia bercerita jika Zarqo telah wafat beberapa hari lalu

Nabi pun kaget dan kecewa karena tak ada yang mengabarkannya

Cinta Zarqo yang tulus pada Nabi pun berbalas
Nabi mendatangi makam Zarqo
Beliau mendoakan Zarqo

Duhai kawan,
Jika dirimu tak dikenali oleh sesiapa
Jika dirimu tak dianggap oleh siapa pun
Jika yang kau lakukan tak dihargai
Jika cintamu tak berbalas pun

Maka, belajarlah dari Zarqo
Rubahlah niat dan cintamu dalam berkhidmat
Lakukan dan niatkan semuanya karena Allah, untuk RasulAllah
Jangan sampai ada niat di hati sebersih pun ingin dilihat

@SisWee

The Tarbiyyah

Iklan

Magic Word : Tolong

“Jika orang dewasa berkata ‘Tolong bantu mengerjakan ini … ‘ anak akan lebih bersikap kooperatif dibanding jika orang dewasa berkata ‘Kerjakan ini … !’
(Brooks & Goldstein)

– Meminta TOLONG, berarti kita menganggap orang yang dimintai tolong itu MAMPU. Dan menganggap orang MAMPU, akan meningkatkan harga dirinya.

– Sementara MEMERINTAH, mengesankan bahwa orang lain dipandang lebih rendah, tidak memiliki kekuasaan dan tidak memiliki kemampuan sehingga harus diberi tahu. Siapa pun akan merasa tidak nyaman bila DIRENDAHKAN dan dianggap TIDAK MAMPU

Yeti Widiati 091213

Nasehat Buya Hamka

*1. Jika Kita Memelihara Kebencian/Dendam,* maka
seluruh ‘Waktu & Pikiran’ yg kita miliki akan habis begitu saja & kita tidak akan pernah menjadi ‘Orang Yang Produktif’.

*2. Kekurangan Orang Lain adalah Ladang Pahala’ bagi kita untuk 😗
» Memaafkannya,
» Mendoakannya,
» Memperbaikinya, dan
» Menjaga Aib-nya.

*3. Bukan Gelar, Jabatan dan kekayaan yg menjadikan ‘Orang Menjadi Mulia’,* Jika kualitas pribadi kita buruk, semua itu hanyalah ‘Topeng Tanpa Wajah’.

*4. Ciri Seseorang (Pemimpin ) itu ” Baik’* akan Tampak dari :
» Kematangan Pribadi,
» Buah Karya,
» serta Integrasi antara ‘Kata & Perbuatan’-nya.

*5. Jika Kita Belum bisa membagikan Harta atau membagikan Kekayaan,* maka Bagikanlah ‘Contoh Kebaikan’ karena Hal itu akan ‘Menjadi Tauladan’.

*6. Jangan Pernah Menyuruh Orang lain utk Berbuat Baik,* Sebelum Menyuruh Diri Sendiri’,
Awali segala sesuatunya untuk kebaikan dari Diri Kita Sendiri.

*7. Pastikan Kita sudah melakukan yg terbaik & ‘Beramal’ hari ini,* Baik dengan :
» Materi,
» dengan Ilmu,
» dengan Tenaga,
» atau Minimal dgn
‘Senyuman yg Tulus’…

*8. Para Pembohong* akan
‘Dipenjara oleh Kebohongannya’ sendiri.
Orang yg Jujur akan
‘Menikmati Kemerdekaan’ dalam Hidupnya.

*9. Bila Memiliki ‘Banyak Harta’, maka Kita lah yg akan ‘Menjaga Harta’.*
Namun Jika Kita Memiliki ‘Banyak Ilmu’, maka Ilmu lah yg akan ‘Menjaga Kita’.

*10. Bila ‘Hati Kita Bersih’,*
Tak ada Waktu untuk :
» Berpikir Licik,
» Curang,
» atau Dengki,
sekalipun terhadap Orang lain.

*11. Bekerja Keras adalah ‘Bagian Dari Fisik’,* Bekerja Cerdas merupakan ‘Bagian Dari Otak’, sedangkan Bekerja Ikhlas adalah
‘Bagian Dari Hati’.

*12. Jadikanlah setiap ‘Kritik’* bahkan ‘Penghinaan’ yg Kita Terima sebagai ‘Jalan Untuk Memperbaiki Diri’.

*13.Kita tdk pernah tahu Kapan* ‘Kematian’ akan ‘Menjemput Kita, tapi yg Kita Tahu adalah kematian itu pasti datang & seberapa Banyak Bekal rohani yg Kita Miliki untuk Menghadapinya..

RENUNGAN UNTUK KITA SEMUA, TERUTAMA UNTUK DIRI SAYA PRIBADI…🙏🙏

Ribuan tahun sebelum Masehi, wilayah bumi dari Timur hingga Barat, dikuasai empat orang saja dengan daerah kekuasaan masing-masing. Mereka terdiri atas dua orang mukmin yang percaya kepada Allah SWT.
.
Sedangkan, dua penguasa lainnya berasal dari kalangan nonmukmin yang ingkar terhadap risalah keesaan-Nya. Dua pemimpin mukmin adalah Sulaiman bin Dawud dan Zulkarnain. Sementara, pemimpin yang tak beriman ialah Bakhtanshar dan Namrud bin Kan’an.
.
Nama pemimpin nonmukmin yang terakhir dikenal diktator, otoriter, dan zalim. Bahkan, Namrud pun disebut-sebut sebagai tiran berdarah dingin dan tak segan menghukum siapa pun yang menolak tunduk terhadap perintahnya. Ia sosok yang ingin dipuja hingga ia memproklamasikan diri menjadi tuhan yang wajib disembah rakyatnya.
.
Suatu saat, Nabi Ibrahim AS tengah datang menghadiri jamuan makan yang digelar Namrud. Para tamu undangan memilih berbagai menu yang terjamu di meja makan. Namrud bercengkerama dan bertanya pada tiap tamunya tentang siapakah tuhan mereka. Hampir tiap hadirin yang ia tanya menjawab, Namrudlah tuhan mereka.
.
Tiba giliran Ibrahim mendapat pertanyaan serupa. Terjadilah perdebatan singkat antara kedua tokoh tersebut. Betapa kagetnya Namrud mendapat jawaban yang tak biasa. “Tuhanku yang menghidupkan dan mematikan,” kata ayahanda Ismail itu menimpali pertanyaan Namrud.
.
Merasa dipermalukan, Namrud pun tidak mau kalah. Ia membantah argumentasi Ibrahim dan tetap bersikeras bahwa dirinya juga bisa menghidupkan makhluk atau mematikannya tanpa menyadari bahwa keistimewan itu hanya dimiliki oleh Allah Sang Khalik semata.
.
Reaksi ingkar Namrud pun sudah dapat dibaca dengan baik oleh Ibrahim. Ia pun bergegas mengutarakan argumentasi berikutnya tentang keberadaan Allah sebagai Tuhan semesta alam.
.
Ibrahim menyatakan bahwa Tuhan yang ia sembah mampu mendatangkan matahari dari ufuk timur lalu menenggelamkannya di belahan bumi bagian barat. “Bisakah engkau wahai Namrud melakukan itu?” katanya mendebat Namrud.
.
Kisah itu terekam jelas dalam surah al-Baqarah ayat 258, “Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan, ‘Tuhanku ialah yang menghidupkan dan mematikan,’ orang itu berkata, ‘Saya dapat menghidupkan dan mematikan.’ Ibrahim berkata, ‘Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur maka terbitkanlah dia dari barat,’ lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”
.
Sang Diktator pun tak bisa berkutik dan kehabisan akal untuk kembali menyanggah pernyataan Ibrahim. Ia terdiam seribu bahasa. Merasa kalah, ia lantas memerintahkan untuk mengambil makanan yang telah diambil Ibrahim. Sosok bergelrar khalilullah itu pun diusir dan lantas kembali tanpa merasakan kelezatan hidangan sang aja.
.
Ibrahim pulang ke rumah dengan tangan hampa di tengah perjalanan ia pun mengambil sekantong pasir lembut dan berdoa agar Allah memberikan rezeki kepada keluarganya. Sesampainya di rumah, Ibrahim beristirahat, perbekalan yang ia bawa, termasuk pasir dalam kantongnya ia taruh di sampingnya begitu saja.
.
Sewaktu tidur itulah, istrinya membuka perbekalannya dan ia mendapati ragam menu makanan yang nikmat. Ketika Ibrahim bangun, istrinya bertanya dari manakah suaminya itu mendapat makanan lezat begitu banyaknya. Ibrahim sadar, Allah telah memberikan rezeki kepada segenap keluarganya.
.
Kisah Namrud, tak terhenti pada kegelisahannya. Allah mengutus seorang malaikat untuk menemui Namrud dan mengajaknya beriman. Sekali, dua kali, ajakan tersebut ditolak. “Memangnya ada tuhan selain aku,” kata Namrud sesumbar.
.
Di kali yang ketiga, ajakan malaikat itu pun mendapat respons tak sedap. Akhirnya, malaikat meminta agar Namrud mengumpulkan sejumlah warganya di pelataran istana. Permintaan itu dikabulkan.
.
Pada hari yang telah ditentukan Allah mengirim ribuan nyamuk atau sejenis serangga ganas menyerang mereka yang telah berkumpul di sana. Serangga itu memakan habis mereka dan hanya menyisakan tulang belulang. Si malaikat masih berdiri tegak, tak tersentuh serangan mematikan serangga-serangga itu.
.
Namrud mencoba meloloskan diri dan sembunyi di ruang khususnya. Serangga-serangga itu mengejar. Di persembunyiannya, ia berusaha mengusir nyamuk itu sekuat tenaga dengan memukul-mukulkan papan ke kepalanya.
.
Kondisi itu bertahan hingga 400 tahun lamanya. Ia pun meninggal dalam kondisi mengenaskan, bukan karena serangan tombak atau hujaman anak panah, melainkan sang diktator itu tewas akibat serangga kecil.
.
Kisah ini mengisyaratkan tentang kebesaran Tuhan. Allah berkuasa membalas keangkuhan manusia yang congkak dan menumbangkannya dengan perkara sepele, seperti kisah makar dan konspirasi Abrahah dengan pasukan gajahnya yang hendak menghancurkan Ka’bah.
.
Kedigdayaan pasukan gajahnya ditumpulkan dengan pasukan kecil berupa gerombolan burung ababil ataupun kisah tentang kematian Fir’aun yang mengaku tuhan. Penguasa Mesir itu meninggal tenggelam di Laut Merah.

Sumber Republika.co.id

Belajar dari Sang Pemaaf

Oleh : Mya Wuryandari

Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Quran ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan) nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui” QS yusuf ayat 4

Allah menyebut kisah kisah dalam al quran sebaik baik kisah…diyakinkan di awal surah Yusuf.

Salah satu hikmah yang bisa dipetik dari sosok nabi Yusuf adalah sifatnya yang pemaaf.
Mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan berkali kali diterimanya dari orang-orang yang berbeda. Padahal, banyak orang akan merasa dendam dan sulit memaafkan orang lain termasuk saudara kandungnya yang tidak baik terhadapnya. Bahkan untuk masalah kecil pun, konflik antar saudara seringkali tak mampu terbendung.

Betapa banyak berita pembunuhan kita dengar dilakukan oleh orang dekat, bermodal alasan sakit hati. Nabi yusuf menerima perlakuan saudara saudaranya yang saling bekerjasama membuangnya dalam sumur. Ini bukanlah perkara sepele. Dilenyapkan dari kehidupan keluarga, tanpa memahami apa kesalahannya.

Namun nabi Yusuf as memilih untuk memaafkan. Segala yang dialami, ikhlas diterimanya sebagai jalan takdir yang digariskan Tuhannya. Memaafkan tanpa menyimpan dendam, akan membuat hati menjadi lapang. Kelapangan hati ini membuat kecintaan Yusuf kepada ayahnya, saudaranya, melebihi rasa sakit yang diterimanya.

Memaafkan inilah yang kemudian mencegah nabi Yusuf membalas perlakuan saudaranya meski ia dalam posisi yang mampu melakukannya. Bukan itu yang diinginkannya. Berjumpa dan berkumpul kembali dengan keluarganya, itulah harapannya.

Rasulullah pun telah mengingatkan kita lewat nasihatnya kepada Ibnu Abbas saat masih kanak kanak.
“dan ketahuilah, bahwa seluruh makhluk (di dunia ini), seandainya pun mereka bersatu untuk memberikan manfaat (kebaikan) bagimu, maka mereka tidak mampu melakukannya, kecuali dengan suatu (kebaikan) yang telah Allah tuliskan (takdirkan) bagimu, dan seandainya pun mereka bersatu untuk mencelakakanmu, maka mereka tidak mampu melakukannya, kecuali dengan suatu (keburukan) yang telah Allah tuliskan (takdirkan) akan menimpamu, pena (penulisan takdir) telah diangkat dan lembaran-lembarannya telah kering.” HR At Tirmidzi

Dengan memahami hadits ini, harapannya kita mampu lebih menyandarkan diri pada Allah. Bahwa sesuatu yang baik bukanlah semata karena pertolongan manusia. Ada Allah yang mengijinkannya terjadi. Begitu pula hal yang kita anggap buruk sampai pada kita. Bukan karena sebab perlakuan manusia semata. Ada Allah yang mengijinkannya pula terjadi.
Maka tak ada alasan kita menaruh dendam. Sebagaimanapun seseorang berusaha baik sendiri maupun beramai ramai mendatangkan keburukan untuk kita..tak akan sampai keburukan itu kecuali Allah telah tetapkan. Jika Allah tetapkan, maka insyaAllah semuanya baik.

Memaafkan tidak akan membuat kita merugi. Seperti yang disampaikan Rasulullah
“Barangsiapa diuji lalu bersabar, diberi lalu bersyukur, dizalimi lalu memaafkan, dan menzalimi lalu beristighfar, maka baginya keselamatan dan ia tergolong orang-orang yang mendapat petunjuk.” ( HR al Baihaqi)

Memaafkan akan membuat kita berpikir lebih jernih, melihat lebih terang, berdiri lebih kuat. Pada akhirnya membuat kita bersikap lebih original. Ya, bersikap sebagaimana mestinya kita bersikap. Karena dengan memaafkan kita akan terbebas dari tuntutan membalas kemarahan. Terbebas dari belenggu keinginan membalas sikap oranglain pada kita.

Kemudian akan kita dapati pemakluman bahwa mereka bisa saja berlaku kasar, berkata tidak baik ataupun menyakiti, tapi tentu kita tidak perlu membalasnya.

Dalam sebuah ceramahnya, Aa Gym pun menasehati. Memaafkan akan membuat kita tidak diatur oleh perilaku oranglain. Memaafkan akan membuat kita tidak terpenjara dengan sikap oranglain. Kita hanya diatur oleh bagaimana Allah mengatur kita.

Referensi
– Al Qur’an
– Hadits arbain
– buku 24Nabi dan Rasul SDI jilid 4 “sang pemaaf”

‘Kamu bisa menjadi apapun yang kamu mau. Asal berusaha keras!’

Well, no. Nggak juga, sebenarnya. Itu cuma ‘comforting lie’, kalimat setengah BS untuk menaikkan semangat belajar kita ketika kanak-kanak.

Atau sekedar bumbu untuk memotivasi para trainee yang somehow sudah sulit melihat makna hidup dalam pekerjaannya atau kesehariannya–sehingga sekedar untuk menyalakan motivasinya sendiri ia sudah tidak mampu, lalu membayar dan menyuruh orang untuk menyalakannya.

Yah, kadang menyala sih. Untuk beberapa hari.

Kalau sampai dewasa dan kita masih percaya bahwa ‘kita bisa menjadi apapun yang kita inginkan’, mungkin perlu sedikit lebih membuka mata melihat kenyataan.

The truth is, no. Kita nggak bisa menjadi seperti apapun yang kita inginkan.

Kalau kita nggak punya suara yang bagusnya agak jauh di atas rata-rata, ya nggak bisa jadi penyanyi. Nggak akan sukses dan bahagia di sana.

Kalau sampai usia SMU kita masih belum bisa mengimajinasikan konsep dan abstraksi di balik rumus-rumus matematika dan fisika (yang kita kira itu cuma hafalan), ya nggak akan jadi saintis di NASA. Kalau kita sampai kuliah selalu buruk dalam koordinasi otot jemari, ya nggak akan bisa jadi ahli bedah syaraf atau pemain piano. Kalau di usia 40 anda tiba-tiba ingin berubah haluan menjadi dokter, ya nggak bisa berkarir sebagai dokter.

Batasan itu ada. Selalu ada.

Gimana kalo berusaha keras?

Gini. Kalau kita terus berusaha keras meski tidak berbakat, tetap akan kalah oleh orang yang berbakat PLUS berusaha keras.

Saya tidak sedang bilang untuk tidak berusaha keras mencapai sesuatu dan hidup santai-santai saja. Bukan. Tapi, daripada berusaha keras pada bidang-bidang yang bukan bakat kita dan bukan natur kita, bukankah jauh lebih mudah–dan lebih menyenangkan–jika kita berusaha keras pada bidang-bidang yang memang kita berbakat di sana, dan senang berada di sana?

Bayangkan kalau Anda tidak berbakat masak, tapi ingin menjadi master chef. Anda berusaha keras, membeli buku-buku, dan sepulang kerja waktu Anda gunakan untuk kursus ini dan itu demi meningkatkan kemampuan, sampai lewat tengah malam. Waktu untuk anak istrinya dikorbankan. Badannya yang perlu istirahat tidak dipedulikan. Sedikit banyak, ia menzalimi kesehatan dirinya dan waktu untuk keluarganya.

Sementara rekan Anda, yang berbakat masak. Sekedar melihat dan mencicipi sebuah masakan, ia sudah bisa membayangkan resepnya dan bisa langsung membuatnya. Sekedar masak biasa saja, orang sudah meminta dibuatkan masakan. Ketika mencoba buka restoran, restorannya laku keras. Rezeki mengalir mudah. Dan mencapai titik ini dengan biasa saja, tanpa harus kursus sampai lewat tengah malam, sehingga tetap punya waktu untuk anak dan istrinya. Badannya tetap sehat karena hak istirahatnya tidak dilanggar.

Jika seseorang berhasil menemukan bakatnya dan bekerja pada naturnya, maka lingkungannya (baca: semestanya) pun terpenuhi semua hak-haknya dengan adil dan tidak terzalimi.

: :

Sabda Rasulullah, “Sesungguhnya setiap diri dimudahkan untuk mengerjakan untuk apa dia diciptakan.” Bukhari 2026.

“Setiap manusia diciptakan untuk sebuah jenis pengabdian tertentu, sebuah tugas tertentu. Dan hasrat untuk melakukan jenis pekerjaan masing-masing itu telah disematkan dalam hati setiap orang.” Jalaluddin Rumi.

“Carilah pekerjaan yang kamu tidak bekerja.” Confucius.

Artinya, ketika kita melakukan apa yang kita sukai, dan mudah bagi kita, kita tidak akan merasa sedang bekerja membanting tulang. Kita akan riang dalam bekerja.

: :

Bakat itu salah satu tanda yang akan mengarahkan kita ke bidang-bidang yang dimudahkan buat kita.

Di sisi lain, itu juga berarti bahwa setiap manusia juga memiliki bidang-bidang yang tidak dimudahkan baginya. Pagar ini jangan dilanggar. Nanti jadi bencana: kita tidak bahagia. Akhirnya jadi tidak bersyukur. Sampai tua mengeluh dan mati dengan menggerutu.

It’s perfectly ok untuk menerima bahwa kita (ternyata) nggak bisa menjadi apapun sebagaimana yang kita inginkan. Makin cepat kita bisa menerima itu, makin baik. Artinya, kita bisa semakin fokus ke bidang-bidang lain: bidang yang kita suka, mudah mengerjakannya. Bidang yang kita sangat berbakat di sana.

Daripada sibuk menambal apa yang kurang, lebih baik fokus mengasah bakat dan kelebihan. Daripada memikirkan yang kita tidak punya, lebih baik menggunakan apa yang sudah di tangan.

Berusaha keras. Jangan diam dan santai-santai. Tapi akan lebih enak jika itu dilakukan dalam koridor bakat, atau yang mudah (baca: dimudahkan Allah) bagi kita.

Tapi saya nggak berbakat apa-apa, kang.

Itu mustahil. Setiap orang pasti, pasti, pasti, punya bakat dalam hal-hal tertentu. Hal-hal yang buat kita gampang, tapi buat orang lain sulit.

Allah itu –mustahil– tidak memberikan bakat pada manusia. Itu kan modal dasar untuk menempuh kehidupan? Masa nggak dikasih.

Masalah sudah ketemu atau belum, atau belum mencoba mengeksplorasi dan menguji apa saja bakat kita atau pada bidang apa saja kita dimudahkan, itu persoalan lain.

Memang idealnya sejak kecil anak dibiarkan bereksplorasi pada berbagai hal–jangan dibilang boros. Biarkan anak mengerti pada bidang apa saja ia suka, dan bidang-bidang apa saja yang membuatnya bosan dan tidak suka, dan selalu gagal di sana — meski sudah berusaha keras. Itu artinya, dia belajar mengenal dirinya. Sehingga kelak di usia SMA, anak sudah yakin dengan bidangnya dan pada hal-hal apa saja ia akan berkarya dengan ringan dan dimudahkan.

Dengan demikian, kuliahnya pun tidak ‘sekedar’ kuliah, ‘sekedar’ sarjana, ‘sekedar’ mencari pekerjaan, dan ‘sekedar’ untuk mencari uang, ‘sekedar’ syarat naik pangkat dan kenaikan gaji. Tidak. Jika seorang anak memasuki usia dewasa dengan memahami kelebihan-kelebihan dirinya dan pada bidang apa saja ia ‘gape’ dalam melakukannya, ia akan –berkarya sepenuh hati– di sana, bukan sekedar bekerja.

Ikan akan mati kalau ingin hidup di darat. Elang akan tersiksa dan hilang keindahannya jika dipaksa hidup di permukaan air. Itu naturnya bangau, bukan elang. Meski keduanya sama-sama burung. Itu sebuah ayat dari Allah ta’ala.

Kalau orang terus memaksa diri dalam pekerjaan dan lingkungan yang salah, itu akan jadi neraka baginya. Tapi, kalau orang ada dalam bidangnya, ia akan bersinar menjalaninya.

Salam.

(Herry Mardian)

Rasulullah

Muhammad SAW, tidak ada yang lebih menentramkan kecuali menatap wajah Rasulullah…. Tidak pernah terasa lelah menatapnya. Tapi kalau kau minta aku deskripsikan, aku tidak bisa karena aku tak sanggup menatapnya lama-lama.

Rasulullah SAW tidak tinggi atau pendek. Kulit beliau lightest brownish colour. Tangannya lembut. Keringatnya sangat harum, lebih harum dari parfum mana saja.

Rambutnya tebal, pundaknya tegap.

Matanya lebar dengan bola mata yang hitam. Ketika jalan, beliau jalan cepat seperti jalan menurun. Ketika bicara dengan seseorang, beliau membalikkan badan dan wajah menghadap yang diajak bicara.

Penanda nubuwah, di antara dua pundaknya…siapapun yang menatapnya tak sengaja, akan tersentak kagum. Siapapun yang menemaninya, akan mencintainya. Tidak ada orang seperti beliau sebelum dan sesudahnya.

Aku lihat wajah Rasulullah SAW dan bulan purnama…demi Allah, Rasulullah SAW lebih indah daripada bulan purnama.

***kesaksian para sahabat tentang Rasulullah SAW….

Di dalam ruang istirahatnya, hanya ada tempat air dan alas tidur yang meninggalkan bekas di punggungnya.

Rasulullah SAW punya unta….mungkin alphard sekarang lah. Tapi, Rasulullah SAW sering memilih mengendarai keledai…mungkin motor bebek sekarang.

Ada dua kekuatan: ketampanan Rasulullah SAW dan kharisma yang menundukkan. Banyak yang masuk Islam hanya menatap wajahnya.

Rasulullah SAW demikian lembut dan penyayang. Zaid bin Haritsah adalah budak yang dihadiahkan Bunda Khadijah ra pada beliau SAW. Ketika Haritsah menemui Rasulullah SAW dan akan menebus Zaid, Rasulullah SAW meminta Zaid memilih.

Zaid memilih tetap bersama dengan Rasulullah SAW (menolak penebusan ayahnya, memilih tetap dalam posisi sebagai budak). Jawaban Zaid pada Muhammad yang saat itu belum diangkat menjadi nabi, ‘Bagaimana mungkin aku memilih yang lain selainmu?’

Bagi kalangan Arab yang sangat mementingkan nasab, garis keturunan, penolakan Zaid ini sangat menampar. Mengapa memilih lelaki selain ayahnya? Mengapa memilih tetap menjadi budak padahal mungkin menjadi manusia merdeka?

Rasulullah SAW yang lembut dan tajam mata batinnya lalu membuat pengumuman. ‘Saksikan, sejak saat ini Zaid saya merdekakan dan saya angkat menjadi anakku.’

(Saat itu, di Arab masih hidup tradisi bahwa anak yang diadopsi posisinya sama dengan anak kandung. Ini menyebabkan, para sahabat ra mengenal Zaid sebagai bin Muhammad. Bin Haritsah baru dikenal setelah Allah memerintahkan pembedaan anak angkat dengan anak kandung.)

Perasaan Ayah Zaid terhibur karena posisi anaknya bukanlah budak, tapi anak.

Zaid sering disebut Rasulullah sebagai yang paling dicintai. Anak Zaid, Usamah, digelari yang dicintai dari yang paling dicintai.

Begitulah Rasulullah SAW.

Allah memberikan semua nabi satu permintaan yang pasti dikabulkan….Ada Nabi yang meminta sesuatu untuk menghukum kaumnya yang degil, seperti Nabi Nuh. Nabi Ibrahim berdoa supaya Allah turunkan nabi dari keturunan anaknya Ismail. Nabi Musa meminta supaya Fir’aun tidak pernah mendapat hidayah. Nabi Sulaiman minta penguasaan/power yang tidak diberikan pada yang lain….misal penguasaan angin hingga bisa berperjalanan dengan karpet.

Rasulullah SAW mengatakan setiap Nabi menggunakan kesempatan satu doa yang pasti dikabulkan ini….doa beliau, beliau tahan, tidak digunakan di dunia ini. Dan doa Rasulullah SAW digunakan nanti di akhirat….yaitu, Allah memaafkan setiap jiwa umat Nabi Muhammad SAW….setiap Muslim….setiap jiwa….dimaafkan kesalahan mereka, hingga diijinkan masuk surga.

Allahumma shalli’ala Muhammad….

(Disarikan dari ceramah Ust Yasir Qadhi oleh Maimon Herawati)

%d blogger menyukai ini: