Feeds:
Pos
Komentar

Oleh: Ustaz Iwan Januar

Salah satu film yang tak bosan diputar di keluarga kami adalah Children of Heaven. Film yang menceritakan persaudaraan Ali dan adik perempuannya, Zahra. Dengan tema sederhana, soal keinginan punya sepatu sekolah, film ini dengan apik menyentuh perasaan. Bagaimana kakak dan adik harus saling membantu dan berkorban. Ali dan adiknya harus bergantian memakai sepatu untuk berangkat ke sekolah sampai kemudian sepatu itu hanyut. Ali pun berjanji pada adiknya akan mengganti sepatu itu dengan cara memenangkan hadiah sepatu pada perlombaan balap lari. Film ini mengajarkan demikianlah kakak dan adik semestinya hidup bersama.

Pembaca budiman, ketika Islam datang semua ikatan ashabiyyah seperti kesukuan, kekelompokkan juga kebangsaan dihapuskan, namun Islam tetap mempertahankan ikatan silaturahim. Hubungan dengan keluarga dan kerabat ini bukan saja dipertahankan bahkan juga diperintahkan untuk dijaga. Sampai-sampai kedudukan seseorang di jannah salah satunya ditentukan oleh seberapa kuat ia menjaga ikatan keluarga. Nabi SAW. bersabda:
ู„ุงูŽ ูŠูŽุฏู’ุฎูู„ู ุงู„ู’ุฌูŽู†ู‘ูŽุฉูŽ ู‚ูŽุงุทูุนูŒ
Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan (silaturahmi) (HR. Muslim)

Salah satu ikatan silaturahim yang begitu penting, dan begitu harus dijaga adalah ikatan kakak beradik. Hubungan antar saudara kandung ini adalah ikatan yang bisa begitu panjang dan melibatkan berbagai hukum Islam. Dalam ikatan persaudaraan ini terkandung hukum mahram, perwalian, waris, nafkah, dll. Andai hubungan di antara mereka tidak erat bukan saja membuat jarak di antara mereka, tapi juga bisa merusak tatanan hukum tersebut.

Tapi sadarkah orang tua lekat atau rapuhnya hubungan kakak beradik amat ditentukan oleh pola asuh yang mereka terima? Ketika orang tua keliru memberikan pengasuhan pada anak-anak maka sebenarnya bibit-bibit keretakan hubungan antar saudara sudah ditanamkan. Kelak ketika tumbuh dewasa ikatan silaturahim di antara mereka akan amat rapuh. Mudah pecah bahkan ada yang sampai melahirkan kesumat. Waliyyadzu billah.

Bukan satu atau dua, saya mendengar cerita kawan tentang hubungan keluarga yang โ€˜dinginโ€™, jauh dari kata akrab sesama saudara. Satu dengan yang lain bahkan lebih mementingkan egonya. Lebih buruk lagi, ada juga keluarga yang sudah tak peduli dengan nasib saudaranya, bahkan kerap ribut di antara mereka.

Ini bukan masalah berapa jumlah anak yang kita punya. Belum tentu dua orang bersaudara pun dapat akur dan saling mendukung dibandingkan yang memiliki banyak saudara kandung. Semua berpulang pada pola asuh yang diberikan orang tua.

Karenanya, mulai perhatikanlah bagaimana pola asuh kita pada anak-anak. Sudahkah kasih sayang yang kita berikan merekatkan hubungan di antara mereka, atau justru sering menimbulkan pertengkaran kecil-kecilan. Ada beberapa langkah yang wajib dilakukan oleh orang tua dalam mendidik dan mengasuh anak-anak:

  1. Istimewakan setiap anak. Anak memang terlahir dari rahim seorang bunda, tapi mereka punya karakter, minat dan kemampuan yang berbeda. Mungkin si sulung berprestasi dalam akademik, tapi yang nomor dua cekatan dalam urusan fisik, dan nomor tiga lamban tapi lebih teliti dan lebih peduli. Karenanya istimewakan dan muliakan setiap anak-anak kita agar mereka tak merasa ada yang dianakemaskan dan dianaktirikan.
  2. Adil dalam pemberian. Perbedaan karakter apalagi prestasi anak kadangkala membuat orang tua lebih mengistimewakannya. Namun Nabi SAW. mewajibkan orang tua adil dalam pemberian. Jangan karena keunggulan seorang anak, maka saudara kandungnya diabaikan.
    ุงุนู’ุฏูู„ููˆุง ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ุฃูŽูˆู’ู„ุงูŽุฏููƒูู…ู’ ููู‰ ุงู„ู’ุนูŽุทููŠู‘ูŽุฉู
    โ€œAdillah di antara anak-anak kalian dalam pemberian!โ€(HR. Bukhari).
    Mengapresiasi prestasi anak itu penting, namun janganlah pemberian hadiah atau pujian padanya membuat saudara-saudaranya merasa diremehkan. Bijaklah dalam menghargai prestasi anak agar tetap menjaga kebersamaan antar anak-anak kita.
  3. Membiasakan saling menolong. Ajarkan pada setiap anak untuk terbiasa dengan tolong menolong, menghilangkan sikap egois dan menumbuhkan sikap saling berkorban. Pujilah mereka ketika memperlihatkan akhlak mulia ini, dan tegur dengan bijak anak yang egois serta tidak perhatian pada kesusahan saudaranya. Ajarkan yang besar untuk menyayangi adiknya, dan ajarkan sang adik untuk menghormati kakak-kakak mereka.
  4. Kikis rasa hasad di antara mereka. Kadangkala anak merasa cemburu pada saudaranya, bisa karena prestasi, pemberian, atau fisik. Disinilah ayahbunda harus bisa menjelaskan pada anak-anak bahwa setiap orang punya kelebihan sebagai karunia Allah. Setiap anak muslim harus belajar bersyukur dan tidak iri hati pada kelebihan saudaranya, karena yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.
  5. Membiasakan saling memaafkan. Sejak kecil jadikanlah saling memaafkan sebagai salah satu habit positif. Ketika mereka bertengkar segera damaikan dan dorong untuk saling meminta maaf dan saling memaafkan. Dengan begitu kelak saat dewasa, berdamai dan saling memaafkan menjadi hal yang tak sulit untuk dilakukan.
  6. Berdoalah pada Allah agar hati mereka terpaut selamanya dalam keimanan. Ayahbunda jangan hanya berdoa untuk rizki mereka, tapi mohon juga agar hati mereka senantiasa terikat dalam persaudaraan karena Allah. Di antaranya yang diajarkan Nabi SAW.:

ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุฃูŽู„ู‘ููู’ ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ู‚ูู„ููˆุจูู†ูŽุง ูˆูŽุฃูŽุตู’ู„ูุญู’ ุฐูŽุงุชูŽ ุจูŽูŠู’ู†ูู†ูŽุง ูˆูŽุงู‡ู’ุฏูู†ูŽุง ุณูุจูู„ูŽ ุงู„ุณู‘ูŽู„ุงูŽู…ู ูˆูŽู†ูŽุฌู‘ูู†ูŽุง ู…ูู†ูŽ ุงู„ุธู‘ูู„ูู…ูŽุงุชู ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู†ู‘ููˆุฑู ูˆูŽุฌูŽู†ู‘ูุจู’ู†ูŽุง ุงู„ู’ููŽูˆูŽุงุญูุดูŽ ู…ูŽุง ุธูŽู‡ูŽุฑูŽ ู…ูู†ู’ู‡ูŽุง ูˆูŽู…ูŽุง ุจูŽุทูŽู†ูŽ ูˆูŽุจูŽุงุฑููƒู’ ู„ูŽู†ูŽุง ููู‰ ุฃูŽุณู’ู…ูŽุงุนูู†ูŽุง ูˆูŽุฃูŽุจู’ุตูŽุงุฑูู†ูŽุง ูˆูŽู‚ูู„ููˆุจูู†ูŽุง ูˆูŽุฃูŽุฒู’ูˆูŽุงุฌูู†ูŽุง ูˆูŽุฐูุฑู‘ููŠู‘ูŽุงุชูู†ูŽุง ูˆูŽุชูุจู’ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู†ูŽุง ุฅูู†ู‘ูŽูƒูŽ ุฃูŽู†ู’ุชูŽ ุงู„ุชู‘ูŽูˆู‘ูŽุงุจู ุงู„ุฑู‘ูŽุญููŠู…ู ูˆูŽุงุฌู’ุนูŽู„ู’ู†ูŽุง ุดูŽุงูƒูุฑููŠู†ูŽ ู„ูู†ูุนู’ู…ูŽุชููƒูŽ ู…ูุซู’ู†ููŠู†ูŽ ุจูู‡ูŽุง ู‚ูŽุงุจูู„ููŠู‡ูŽุง ูˆูŽุฃูŽุชูู…ู‘ูŽู‡ูŽุง ุนูŽู„ูŽูŠู’ู†ูŽุง

โ€œYa Allah tautkanlah hati kami dan perbaikilah urusan di antara kami, tunjukkan kami jalan-jalan keselamatan, dan selamatkan kami dari kegelapan menuju cahaya dan jauhkanlah kami dari perkara yang keji baik yang nyata maupun yang tersembunyi, dan berkahilah kami pada pendengaran kami, penglihatan kami, dan hati kami, pasangan-pasangan kami, dan keturunan kami, dan ampunilah kami, sesungguhnya Engkau Maha Penerima taubat dan Maha Penyayang, dan jadikanlah kami golongan yang bersyukur terhadap nikmatMu, memujinya dan menerimanya, dan sempurnakanlah atas kami.โ€ (HR. Abu Daud).

GAGAH SAAT DATANG MASALAH

ุงุฐุง ุชุตุจูƒ ุฎุตุงุตุฉ ูุชุฌู…ู„

“Apabila kesulitan menimpamu ,maka tunjukanlah kegagahanmu.”

Jangan lemah dan lunglai saat hadirnya kesulitan dlm kehidupanmu, karena sesungguhnya hidupmu lebih banyak mudahnya dari sulitnya, lebih banyak tawanya dari sedihnya, lebih banyak sehatnya dari sakitnya dan lebih banyak sukanya dari dukanya.

Keep smile saat masalah membuat hidupmu mengharu biru, karena tidaklah Allah memberikan masalah melainkan Ia sudah sesuaikan dgn kemampuanmu memikul masalah dan Allah tidak pernah ingkar janji.

Jika masalahmu terlihat di luar batas kemampuanmu, itu tandanya engkau tidak belajar dari sekolah kehidupanmu, sehingga ketika ujian itu hadir engkau tidak mau mampu menjawab dan keluar darinya.

Gagahlah saat ditimpa musibah karena yg putus asa itu hanya orangยฒ kafir, yg membedakan kafir dgn mukmin itu adalah harapan, manusia beriman itu selalu punya harapan betapapun pahit ujian yg ia hadapi, sedangkan mereka yg kafir akan buntu dan kaku saat dirundung masalah.

Lihatlah Rasulullah walau dalam kondisi terjepit saat Duโ€™sur menghunus pedangnya dan berkata kepadanya, “Siapa yg menghalangiku dari membunuhmu?”
maka dengan penuh optimis nabi saw menjawab, “Allah.”
Lalu jatuhlah pedang Duโ€™tsur karena gemetar dan takut.

Lalu Nabi saw mengambil pedang itu dan menghunuskannya ke Duโ€™tsur, lalu beliau berkata, “Dan sekarang siapa yg membelamu wahai Duโ€™tsu?”
Dgn pucat pasi ia berkata “Tidak ada wahai Muhammad.”

Ksatrialah saat ujian menghadang , karna Allah menjanjikan bahwa kemudahan itu datang bersama kesulitan, bukan setelahnya. Dan kalimat itu Allah ulangi sebanyak 2x dlm surat al-Insyirah. Itu tandanya ketika datang satu kesulitan, maka akan datang 2 kemudahan utk menghancurkannya.

Ingatlah satu kesulitan tidak akan bisa mengalahkan dua kemudahan.

โœ๐Ÿป Ust. Faisal Kunhi
Reposted by : @pesanpositifharian โ€ขโ”ˆโ”ˆโ”ˆโ”ˆโ€ข โ€ ๐Ÿ’ซโญ๐Ÿ’ซ โ€ โ€ขโ”ˆโ”ˆโ”ˆโ”ˆโ€ข

BOLEH DI-SHARE tanpa menambah, mengurangi, dan mengubah konten serta menghilangkan sumbernya.


Channel telegram https://t.me/pesanpositif

1. Bahasa

https://forms.gle/Yvip6NNYvcuaefj67

2. PKN

https://forms.gle/vpYkFTxceWvJBDbR6

3. Matematika

https://forms.gle/ESRmwS85M88iVjce7

4. PAI

https://forms.gle/CC4TduoLgXSw5Rbq8

5. Aqidah

https://forms.gle/7NnLaAahBYVRpkGy7

6. Bahasa Arab

https://forms.gle/g4aAw2Ru2L9wm3WW8

7. Bahasa Inggris

https://forms.gle/BhBR7tXrny5hbgJq8

Soal Latihan Kelas 2 Tema 1

1. Bahasa Indonesia

https://forms.gle/DocURve6B4NzZPn46

2. PKN

https://forms.gle/VEP4TCu6aWEKxZs19

3. Matematika

https://forms.gle/gKV1WCKjhqNck3Tb6

4. PAI

https://forms.gle/QwNrCgqTkAghm7HN8

5. Aqidah

https://forms.gle/fJJZab7weSXce9oFA

6. Ibadah

https://forms.gle/SfCvAujQ8uoRfaKWA

1. Bahasa Indonesia

https://forms.gle/5EBmqajJnewUKt6y6

2. PKN

https://forms.gle/UUnCdLohHYTTxKYc6

3. Matematika

https://forms.gle/mzFraZo8PooqDcLL9

4. PAI

https://forms.gle/VEP4TCu6aWEKxZs19

5. Aqidah

https://forms.gle/SfQzJ5UthEeBe3gs7

6. Bahasa Arab

https://forms.gle/HgjUMVrKnyoqe86S6

7. Bahasa Inggris

https://forms.gle/LwNB6XU15tKDtrWf6

1. Bahasa Indonesia

https://forms.gle/VC47q919HtCgJCLVA

2. PKN

https://forms.gle/28g6MPJ8nkYN3osQA

3. Matematika

a. Matematika Tentang Uang

https://forms.gle/NKUc2fbnH6GNPgyX6

b. Matematika Tentang Ruang

https://forms.gle/442AkvYZUggeDFSC9

4. PAI

https://forms.gle/bn8GaRAfwHNrFCmR6

5. Aqidah

https://forms.gle/9Ar6jEMSCZEWxNNVA

Makna Kecerdasan


Di papan tulis, saya menggambar sebatang pohon kelapa di tepi pantai, lalu sebutir kelapa yang jatuh dari tangkainya.
Lalu saya bercerita, ada 4 anak yg mengamati fenomena alam jatuhnya buah kelapa di tepi pantai itu.

ยฎ Anak ke 1 :* Dengan cekatan dia mengambil secarik kertas, membuat bidang segi tiga, menentukan sudut, mengira berat kelapa, dan dengan rumus matematikanya anak ini menjelaskan hasil perhitungan ketinggian pohon kelapa, dan energi potensial yang dihasilkan dari kelapa yang jatuh
lengkap dengan persamaan matematika dan fisika.

Lalu saya bertanya kepada siswa saya : “Apakah anak ini cerdas?”
dijawab serentak sekelas : “iyaโ€ฆ Dia anak yang cerdas.” Lalu saya lanjutkan cerita โ€ฆ

ยฎ Anak ke 2 :* Dengan gesit anak kedua ini datang memungut kelapa yang jatuh dan bergegas membawanya ke pasar, lalu menawarkan ke pedagang dan dia : “bersorak โ€ฆ yesss โ€ฆ laku Rp 5.000”

Kembali saya bertanya ke anak-anak di kelas : “apakah anak ini cerdas?”
Anak-anak menjawab : “iyaa โ€ฆ Dia anak yg cerdas.”
Lalu saya lanjutkan ceritaโ€ฆ

ยฎ Anak ke 3 :* Dengan cekatan, dia ambil kelapanya kemudian dia bawa keliling sambil menanyakan, pohon kelapa itu milik siapa? Ini kelapanya jatuh, mau saya kembalikan kepada yang punya pohon.

Saya bertanya kepada anak-anak : “apakah anak ini cerdas?”
anak-anak dengan mantap menjawab : “Iya โ€ฆ dia anak yang cerdas.”
Sayapun melanjutkan cerita ke empat โ€ฆ

ยฎ Anak ke 4 :* Dengan cekatan, dia mengambil kelapanya kemudian dia
melihat ada seorang kakek yg tengah kepanasan dan berteduh di pinggir
jalan. “Kek, ini ada kelapa jatuh, tadi saya menemukannya, kakek boleh meminum dan memakan buah kelapanya”.
Lalu saya bertanya : “apakah anak ini, anak yg cerdas?”
Anak-anak menjawab :”Iya โ€ฆ dia anak yang cerdas.”

Anak-anak menyakini bahwa semua cerita di atas menunjukkan anak yg cerdas. Mereka jujur mengakui bahwa setiap anak memiliki “Kecerdasan & keunikan-nya sendiri”.
Dan mereka ingin dihargai dari “Kecerdasan & keunikan-nya” tersebut.

Namun yang sering terjadi, di dunia kita, dunia para orang tua dan pendidik, menilai kecerdasan anak hanya dari satu sisi, yakni ?

“Kecerdasan Anak Pertama, Kecerdasan Akademik”, Lebih parahnya, kecerdasan yang dianggap oleh negara adalah kecerdasan anak pertama yang diukur dari nilai saat mengerjakan UN.

Sedang โ€ฆ
“Kecerdasan Finansial” (anak no 2), “Kecerdasan Karakter” (anak no 3) dan “Kecerdasan Sosial” (anak no 4). Belum ada ruang yg diberikan Negara untuk mengakui kecerdasan mereka.

Anak Anda termasuk nomor berapa?
Anak Anda semuanya adalah anak-anak yang cerdas dengan “Keunikan dan Kecerdasan-nya” masing-masing. Hargai dan jangan samakan dengan orang lain atau bahkan dengan diri Anda sendiri.

Mari hargai kecerdasan anak kita masing-masing, dan siapkan mereka dengan 5 kecerdasan (Akademik, Finansial, Karakter, Sosial, dan Agama) sebagai pedoman di mana mereka akan mengarungi lautan hidup kelak.
Tiap manusia lahir dengan kecerdasan dan keunikan masing-masing ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ

by KOMPPAK
Komunitas Pecinta Pendidikan, Anak, dan Keluarga

Oleh: Fitrah Ilhami

โ€œAku bingung banget, Fit. Kenapa ya anak-anak gak mau nurut sama sekali ke aku?โ€ Curhat seorang teman pada suatu ketika. โ€œSetiap aku menasihati sesuatu, anak-anak tidak pernah mau melakukan. Aku gak pingin marah-marah terus tiap hari ke anak. Tapi gimana lagi, mereka susah dibilangin.โ€

Aku mengangguk kecil mendengar keluh kesahnya. Sungguh, aku pun pernah berada di posisinya, pusing ketika anak susah sekali menurut apa kata orang tua. Dan sampai sekarang pun aku terus belajar untuk menjadi orang tua yang ucapannya berpengaruh pada anak.

Hingga suatu hari, sekolah tempatku mengajar mengadakan acara parenting via Zoom. Pembicaranya Ustadz Ahmad Arqom, founder lembaga pelatihan kepribadian Trustco.

โ€œSetidaknya ada 3 kaidah dalam bahasa Arab, yang bila kita memahami serta melaksanakan kaidah ini, insyaAllah ucapan kita akan punya โ€˜powerโ€™ terhadap anak.โ€ Aku menyimak baik-baik pesan Ustadz Ahmad Arqom.

Apa saja kaidah itu?

Pertama, Annaasu atbaโ€™a man gholaba, manusia itu cenderung akan mengikuti siapa yang lebih kuat, lebih sholih, lebih pintar, dan lebih banyak jasa terhadapnya.

Orang tua yang ingin diikuti ucapan dan sikapnya oleh anak, tentu wajib menunjukkan kelebihannya pada anak. Bila anak sholat wajib 5 kali sehari, maka orang tua harus tambah dengan sholat sunnah. Bila anak baca Quran satu lembar, orang tua harus baca Quran minimal 5 lembar. Bila anak bisa matematika dasar, orang tua harus berusaha jauh lebih memahami matematika ketimbang anak. Maka, ketika anak melihat orang tua ternyata punya โ€˜segala sesuatu yang lebihโ€™ dibanding dirinya, baik itu dalam bentuk ibadah atau ilmu pengetahuan, mau tidak mau anak akan menjadi segan, respek, dan ucapan kita akan berbekas di hatinya.

Jadi, sudah bukan masanya lagi kita sebagai orang tua hanya bermodal โ€˜lebih duluan lahirโ€™ lalu gampang menyuruh anak untuk ini dan itu. Pingin anak rajin sholat tepat waktu, orang tua harus rajinkan diri sholat tepat waktu terlebih dahulu. Jangan bisanya bilang, โ€œNak, ayo sholat. Sudah adzan.โ€ Tapi setelah itu sang orang tua malah asyik nonton sinetron โ€œKumenangiiiis โ€ฆ Membayangkanโ€ฆโ€.

Kaidah kedua, Ashlih nafsaka yasluh lakannaas. Perbaiki dirimu, maka orang lain akan berbuat baik padamu.

Dalam konteks pendidikan anak, jika kaidah ini dibalik, mengapa anak tidak mau berbuat baik pada orang tua? Ya, bisa jadi karena sang anak tidak mellihat kita sebagai orang tua yang mau memperbaiki diri.

Pertanyaannya sekarang, apakah sudah maksimal kita memperbaiki diri? Jika belum, mungkin itulah yang menyebabkan anak tidak mau nurut pada kita.

Ada sebuah kisah dari seorang sahabat. Sahabat ini aku lihat begitu disegani oleh anaknya. Ketika aku tanya apa rahasianya? Sambil tersenyum ia jawab,

โ€œGak ada rahasia khusus, sih. Tapi dari sejak anakku lahir, aku punya kebiasaan tidak pernah sekalipun ngentut / buang angin atau mengupil di depan anak.โ€

Sederhana banget. Tapi dampaknya begitu luar biasa. Betapa hal-hal kecil yang sering kita abaikan, ternyata bisa berpengaruh pada hormat tidaknya anak ke orang tua.

Sekarang, kita tanyakan pada diri sendiri, betapa sering kita โ€œBrat brot bret brutโ€ di depan anak tanpa sungkan, atau garuk-garuk ketiak tanpa mempedulikan anak melihat tingkah bapak emaknya. Kita bahkan menganggap hal itu sebagai lelucon, tapi hasilnya anak akan memandang diri kita rendah. Naudzubillah.

MasyaAllah, sebelum mendengar kajian ini, aku termasuk orang tua yang โ€œbrat brot bret brutโ€ di depan anak. Tapi setelah mengaji, aku berhenti melakukan hal itu. Sekarang lebih sering โ€œbrat brot bret brutโ€ di depan istri. Wkwkwk.

Ayo bareng-bareng memperbaiki diri. Karena setiap perbaikan bukan hanya membuat diri kita menjadi nyaman, tapi bisa membuat orang lain senang.

Kaidah ketiga yaitu, Kimmatul marโ€™i biqodri ma yuhsinuhu, nilai seseorang itu sangat ditentukan oleh seberapa banyak kebaikan yang bisa ia kerjakan.

Artinya, keterlibatan kita di dalam membersamai anak saat ia punya masalah, akan berpengaruh besar pada sikap hormat anak pada orang tua. Dengan selalu membersamai anak, terutama ketika ia tertekan oleh suatu hal, maka anak akan merasakan bahwa dia tidak sendiri, dia punya tempat curhat, dia punya sahabat, dan dia punya cinta pertama di dunia ini: ayah ibunya. Dan bila anak sudah merasakan hal ini, insyaAllah ia tidak akan berbuat sesuatu yang bakal mengecewakan orang tuanya.

Izinkan aku mengulang kisah Nabi Yusuf dan ayahnya, Nabi Yaโ€™kub. Dan semoga dari kisah ini kita akan melihat betapa keshalihan orang tua, terutama seorang ayah, mampu mengeluarkan anak dari jerat kemaksiatan.

Kisah ini kita bisa baca secara lengkap di Surat Yusuf. Di sini aku mau paparkan poin pentingnya saja.

Saat itu, Nabi Yusuf dijebak di dalam sebuah kamar oleh istrinya raja. Istri raja itu sungguh cantik jelita, badan seksi tinggi semampai, rambut lurus tergerai, semua orang tergila-gila padanya. Bahkan orang sesholih Yusuf pun tak kuasa menahan tarikan nafsu syahwat ketika digoda untuk berzina oleh sang ratu.

โ€œMarilah mendekat padaku,โ€ desah perempuan cantik itu.

Berdua di dalam kamar yang sunyi itu, membuat Nabi Yusuf sudah kehilangan akal sehat, otaknya telah tersumbat nafsu. Di dalam Surat Yusuf ayat ke 24 digambarkan detailnya,

โ€œDan sungguh, perempuan itu sudah ingin sekali berzina dengan Yusuf, dan Yusuf pun juga punya keinginan yang sama padanya.โ€

Lalu apa yang membuat Yusuf akhirnya selamat dari rayuan maut wanita itu? Jawabannya ada di keterangan selanjutnya.

โ€œ(Yusuf akan melakukan zina itu) Seandainya dia tidak melihat tanda dari Tuhannya. Demikian, Kami palingkan keburukan dan kekejian darinya. Sungguh, Yusuf termasuk hamba Kami yang terpilih.โ€

Yang jadi pertanyaan pentingnya adalah, tanda apa yang diberikan Allah pada Yusuf hingga beliau bisa selamat dari lilitan tali nafsu yang begitu kuat itu? Para ahli tafsir Quran menjelaskan bahwa Sang Ayah-lah tanda yang dimaksud.

Jadi, ketika Nabi Yusuf tinggal selangkah lagi melakukan zina dengan istri tuannya. Tiba-tiba beliau melihat Nabi Yaโ€™kub di samping pintu dan berteriak, โ€œYusuf!โ€

Setelah seperti mendengar ayahnya berteriak, Nabi Yusuf juga melihat ayahnya menggigit jarinya sendiri. Dalam adat di daerah tinggal Nabi Yaโ€™kub, menggigit jari tangan adalah simbol kekecewaan dan kemarahan.

Maka kembalilah kesadaran Nabi Yusuf, hingga beliau segera lari keluar kamar meski sempat ditarik bajunya dari belakang oleh sang ratu yang hatinya masih dipenuhi nafsu.

Lihat! Betapa keshalihan seorang ayah dapat menyelamatkan anaknya dari perbuatan keji. Padahal kita tahu, Nabi Yusuf berpisah dengan ayahnya ketika ia masih kecil karena dimasukkan ke dalam sumur oleh saudara-saudaranya, ditemukan oleh pedagang budak, lalu dijual ke Mesir. Selama bertahun-tahun Nabi Yusuf putus kontak dengan Nabi Yaโ€™kub. Zaman itu belum ada WA, belum bisa video call-an.

Lalu mengapa Nabi Yaโ€™kub masih berkesan dan punya pengaruh kuat di hati Yusuf? Keshalihan! Ya, karena keshalihan sang ayah lah yang menyelamatkan sang anak. Dalam masa perpisahan mereka, Nabi Yaโ€™kub tak henti berdoa khusus untuk keselamatan Yusuf.

Sekarang, seberapa shalih kita beribadah? Seberapa sering kita mendoakan anak?

Semoga dengan keshalihan dan doa-doa yang selalu melangit untuk sang anak, membuat buah hati kita menjadi anak yang dapat menyejukkan mata dan hati bagi orang tuanya.

Aamiin.


Surabaya, 11 Juli 2020
Fitrah Ilhami

Sheikh Abu Bakar bin Salim ialah seorang yang terkenal dengan sikap pemurahnya & suka melayan kepada para tetamu. Setiap hari beliau menyembelih seekor unta untuk menjamu para tetamunya. Suatu hari, datang seorang wanita tua ingin menghadiahkan beberapa cupak gandum kepada beliau.

Apabila wanita tersebut datang ke rumah Sheikh Abu Bakar bin Salim, pembantunya menanyakan apa hajat wanita tersebut. Diberitahukan dia ingin menghadiahkan gandum yang dibawanya. Pembantu tersebut mengatakan, “Tidakkah engkau tahu bawah Sheikh Abu Bakar bin Salim hari-hari menyembelih seekor unta dan menyediakan makanan yang banyak untuk para tetamunya? Dan kamu datang dengan beberapa cupak gandum ini sahaja?”

Maka wanita tersebut kecil hati dan pergi. Sheikh Abu Bakar bin Salim yang mendengar, turun dari rumahnya dan berlari memanggil kepada wanita tersebut dan ditanya apa hajatnya. Wanita tersebut memberitahukan hajatnya yang datang ingin memberikan hadiah berupa beberapa cupak gandum.

Maka Sheikh Abu Bakar bin Salim mengambil gandum tersebut, diletakkan di dalam serbannya, kemudian dicium gandum tersebut dan mengucapkan terima kasih serta mendoakan kepada wanita itu di atas pemberian hadiah tersebut. Beliau melakukan seperti itu semata-mata kerana ingin menghargai & menjaga perasaan wanita tersebut, walaupun pada zahirnya ianya sebuah pemberian yang kecil, akan tetapi menjaga perasaan orang lain adalah amat bernilai disisi ALLAH S.W.T.

Wanita tersebut pun akhirya gembira dan pulang. Sheikh Abu Bakar bin Salim kemudian menegur pembantunya dengan berkata “Kami tidak sampai kepada kedudukan yang kami sampai di sisi ALLAH S.W.T, kecuali dengan menjaga perasaan orang lain”

Menjaga perasaan orang adalah bahagian daripada karomah yang diberikan oleh ALLAH S.W.T kepada hamba yang beriman kepada-Nya.

Antara kisah yang pernah disampaikan oleh Al-Habib Ali Zaenal Abidin bin Abu Bakar Al-Hamid. Semoga kita semua diberi taufiq dan hidayah untuk dapat mengambil manfaat daripada kisah ini. Amin Allahumma Amin

Sumber : Telegram.me/hijrahpendosa

Mungkin ada seseorang yang ingin memperbanyak membaca Al Qur’an karena merupakan dzikir yang paling utama.
Tidak, hari Arafah adalah hari untuk berdo’a
Mungkin ada yang ingin memperbanyak sholat.
Tidak, hari Arafah adalah hari untuk berdo’a

Hari ini adalah hari antara kita dengan Allah. Buka semua rahasia dirimu dan adukan kepada Allah karena hari ini adalah hari untuk berdo’a, meminta dan mengadu kepada Allah

(Syaikh Muhammad Al Arifi)

%d blogger menyukai ini: