Feeds:
Pos
Komentar

Reminder

Ppenulis : Bunda Kaska

Bismillaah

Allah selalu memberikan yang terbaik bagi hambaNya.

Allah ga punya sifat dzalim…

Orang yang menyakiti kita, orang yang meremehkan kita, orang yang menghina kita, orang yang berbuat dzalim pada kita, orang yang mencaci maki kita, dan aneka ketidaknyamanan yang menimpa kita diperbuat orang lain,
Sebetulnya itu sarana tempaan.

Hati kita ditempa.
Kita sakit, kita jatuh, kita bangkit, kita tersenyum bisa melalui semua itu, dan kita jadi lebih kuat 😊

Kesakitan demi kesakitan, level ringan sampe level dahsyat, membuat kita jadi pribadi yang lebih tangguh dari hari ke hari.

Apa sih yang Allah mau?
Allah mau kita berserah.
Allah mau kita bertaubat.
Allah mau kita berubah.
Allah mau kita bersabar.
Allah mau kita ridha.

Janji-janji Allah itu benar adanya.

Bahwa setiap kesulitan sesuai dengan kesanggupan.
Setelah kita sakit, dijahati orang atau apapun bentuknya, apa yang Allah beri setelah kita bersabar dan tidak membalas?
Apa Allah meninggalkan kita?
Apa justru hati kita makin dekat dengan Allah?
Allah akan beri perubahan pada akhlak kita.

Setiap ujian dan azab yang disegerakan di dunia itu membawa kebaikan bagi kita, asalkan kita ridha.

“Sungguh, Kami akan menguji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan.” (QS Al Baqarah: 155).

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Senantiasa ujian itu menerpa mukmin atau mukminah pada jasadnya, harta dan anaknya sampai ia bertemu dengan Allah dalam keadaan tidak mempunyai dosa.” (HR Ahmad)

“Apabila Allah menginginkan kebaikan kepada hambaNya, Allah akan segerakan sanksi untuknya di dunia. Dan apabila Allah menginginkan keburukan kepada hambaNya, Allah akan membiarkan dosanya (di dunia) sampai Allah membalasnya pada hari kiamat.” (HR At Tirmidzi dan Al Hakim dari Anas bin Malik).

“Tidaklah seseorang diberikan dengan sesuatu yang lebih baik dan lebih luas dari kesabaran.” (HR Al Bukhari dan Muslim).

“Tidak ada yang diberikan (sifat-sifat yang terpuji ini) kecuali orang-orang yang sabar, dan tidak ada yang diberikannya kecuali orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” (QS Fushilat: 35).

Jangan berharap minta diberi ujian,
Tapi saat Allah beri ujian atau azab, yakinlah semua itu karena kasih sayangNya pada kita.
Ada derajat yang tidak bisa kita capai dengan amalan kita, maka Allah beri aneka ujian supaya kita naik ke derajat tersebut.
Ada azab yang Allah berikan di dunia akibat dosa-dosa kita, maka kita bertaubat dan bersyukur diberi kesulitan di dunia karena itu lebih baik dibanding azab diberikan kelak di akherat yang berkali-kali lipat lebih parah.

Hadirnya orang-orang yang menguji kita, ingatlah bahwa itu hakekatnya semua Allah yang menggerakan.
Merekapun jangan kira ga akan mendapat balasanNya, sabar aja….kalo ga diberi balasan atas keburukan yang mereka lakukan di dunia, pasti akan diberikan di akherat kelak.
Yang bisa kita lakukan adalah bertekad jangan jadi orang yang jahat, dzalim, menyakiti orang lain, karena kita sendiri udah merasa itu ga enak, sakit kan.
Dan sebisa mungkin ya doakan kebaikan bagi orang tersebut moga Allah beri hidayah, disadarkan dan bertaubat, jangan sampe termasuk yang Allah biarkan mendapat azabNya di akherat.

Semua yang kita pendam, kita ikhlas jalani, kita ridha dengan musibah dan kedzaliman yang menimpa kita, yakinlah akan ada balasan yang besar menanti.
Allah akan karuniakan keberuntungan yang besar bagi yang bersabar.

Semoga Allah karuniakan kita semua sifat sabar.

Barakallaahu fiik
Bunda kaska

Tidak jarang, kita memarahi mereka saat kita lelah.
Kita membentak mereka padahal mereka belum benar-benar paham kesalahan yang mereka lakukan.
Kita membuat mereka menangis karena kita ingin lebih dimengerti dan didengarkan.

Tetapi,
seburuk apapun kita memperlakukan mereka, segalak apapun kita kepada mereka, semarah apapun kita pernah membentak mereka…
Mereka akan tetap mendatangi kita dengan senyum kecilnya.
Menghibur kita dengan tawa kecilnya,
Menggenggam tangan kita dengan tangan kecilnya,
Seolah semuanya baik-baik saja,
seolah tak pernah terjadi apa-apa sebelumnya.

Mereka selalu punya banyak cinta untuk kita,
meski seringkali kita tak membalas cinta mereka dengan cukup.

Kita bilang kita bekerja keras demi kebahagiaan mereka,
tetapi kenyataannya merekalah yang justru membahagiakan kita dalam lelah di sisa waktu dan tenaga kita.

Kita merasa bahwa kita bisa menghibur kesedihan mereka atau menghapus air mata dari pipi-pipi kecil mereka,
tetapi,
Sebenarnya kitalah yang selalu mereka bahagiakan.
Merekalah yang selalu berhasil membuang kesedihan kita,
melapangkan kepenatan kita, menghapus air mata kita.

Kita berhutang banyak pada anak-anak kita.
Dalam 24 jam, berapa lama waktu yang kita miliki untuk berbicara, mendengarkan, memeluk, mendekap dan bermain dengan mereka?

Dari waktu hidup kita bersama mereka, seberapa keras kita bekerja untuk menghadirkan kebahagiaan sesungguhnya di hari-hari mereka, melukis senyum sejati di wajah mungil mereka?

Tentang anak-anak,
Sesungguhnya merekalah yang selalu “lebih dewasa” dan “bijaksana” daripada kita.
Merekalah yang selalu mengajari dan membimbing kita menjadi manusia yang lebih baik setiap harinya.

Seburuk apapun kita sebagai orangtua, mereka selalu siap kapan saja untuk menjadi anak-anak terbaik yang pernah kita punya.

Kita selalu berhutang kepada anak-anak kita.
Anak-anak yang setiap hari menjadi korban dari betapa buruknya cara kita mengelola emosi.
Anak-anak yang terbakar residu ketidakbecusan kita saat mencoba menjadi manusia dewasa.
Anak-anak yang menanggung konsekuensi dari nasib buruk yang setiap hari kita buat sendiri.

Anak-anak yang barangkali masa depannya terkorbankan gara-gara kita tak bisa merancang masa depan kita sendiri.
Tetapi mereka tetap tersenyum, mereka tetap memberi kita banyak cinta, mereka selalu mencoba membuat kita bahagia.

Maka dekaplah anak-anakmu, tataplah mata mereka dengan kasih sayang & penyesalan, katakan kepada mereka:
“Maafkan untuk hutang-hutang yang belum terbayarkan”

Maafkan jika semua hutang ini telah membuat Allah tak berkenan.
Maafkan karena hanya pemaafan dan kebahagiaan kalianlah yang bisa membuat hidup ayah dan ibu lebih baik dari sebelumnya.
Iya, lebih baik dari sebelumnya.

Selamat memeluk anak-anak kita. 👪🙌

Fp. Waktu Subuh

Pada tahun 1892, Toko Buah Yu mengangkut 50 keranjang nanas dari Laiyang ke Shanghai. Krn perjalanan yang jauh maka nanas-nanas membusuk dan dibuang.

Di seberang Toko Buah Yu ini ada toko kecil dihuni sepasang suami istri yang tidak memiliki sesuatu untuk dimakan dan segera memungut nanas yang dibuang itu. Nanas dikupas, dipotong kecil-kecil dan dijualnya.

Bisnis ini berjalan lancar. Suami istri ini membeli nanas busuk dari Toko Yu. Toko Yu dengan senang hati menjual murah.

Nanas itu diproses jadi kue dodol nanas dan terjual laris. Dalam waktu singkat kue dodol nanas ini jadi makanan khas daerah Tiongkok Selatan dan sampai ke kerajaan.

Pemilik Toko Yu iri.
Yu tahu bhw kue dodol nanas itu terbuat dr nanas busuk yang dia jual. Malam harinya Yu menulis “Tian Zhi Dao” (Langit Tahu) lalu menempelnya di pintu toko kue dodol nanas.

Esoknya suami istri itu melihat tulisan ini. Mereka terperanjat, tahu kalau ada orang yang ingin merusak bisnis mereka.

Suami tertawa dan berucap, “Kita kebetulan sedang berpikir mencari nama toko, hari ini ada orang yg menuliskan nama toko dan mengirimnya ke depan pintu, itu bagus sekali.” Kaisar juga pernah memakan kue dodol nanas tokoku, Kaisar adalah Putra Langit pada masa itu, jadi sdh seharusnya kalau memakai nama ‘Tian Zhi Dao’. Oke, saya gunakan ini sebagai nama toko!”

Dampaknya bisnis kue dodol nanasnya jadi semakin melejit. Yu jadi semakin berang. Lalu Yu dgn liciknya melukis di dinding toko itu seekor kura-kura yang menyembunyikan kepala di dalam tempurung dengan disertai tulisan: “Tidak tahu malu”

Keesokan harinya, melihat lukisan kura-kura ini, sepasang suami istri itu terdiam, namun sejenak kemudian berucap secara bersamaan, “Kita gunakan gambar kura-kura ini sebagai logo produk. Kue dodol nanas dapat menyembuhkan batuk dan memperpanjang usia. Kura-kura adalah hewan yang panjang usianya.”

Sejak itu, logo kura-kura jadi logo yg terkenal di Shanghai.

*Dari kisah ini, kita dapat mengambil pelajaran tentang kekuatan pikiran…*

Seseorang yang bijak akan mampu mengubah hinaan, kegagalan, dan kekecewaan, menjadi sebuah motivasi hidup yang membawa kesuksesan.

“Lateral Thinking” istilah kerennya, berpikir dari sisi lain untuk memecahkan masalah dan menganggap semua takdir hidup yang diberikan oleh Tuhan akan membawa rejeki yang datang dari tempat tidak terduga.

*Hal “Buruk” dapat diubah menjadi hal yang baik, “it’s all about our Mindset”…*

*Change Your Response
Change Your Class*

Fp. Inspirasi Kehidupan

Refleksi Ramadhan

Tulisan yang sangat bagus n inspiratif dari Ustadz Akmal N Basral. Wajib dibaca sampai habis.

*CURHAT EMAK-EMAK*
Uda Akmal (@akmalbasral)

Dalam aktivitas dakwah selama ini, saya termasuk jarang memberikan materi dalam “pengajian emak-emak” dibandingkan untuk “pengajian bapak-bapak”, “pengajian keluarga (suami-istri hadir”, “pengajian kantor” atau “pengajian masjid umum/komplek”. Namun dari pengalaman yang jarang itu ada beberapa ‘curhat emak-emak’ yang biasanya disampaikan lebih jujur, apa adanya, kadang sampai membuat _mbrebes mili_ juga saat mendengarkannya. Ini tiga di antaranya:

*Curhat 1*
Di tengah sebuah pengajian yang saya sampaikan, seorang ibu muda yang duduk di seberang saya tampak tersentak wajahnya, lalu murung, menunduk, dan terlihat berjuang keras melawan jatuhnya air mata. Bahkan dia sempat menyeka cepat ujung matanya. Hingga pengajian usai dan masuk sesi tanya jawab ibu ini diam saja.

Baru setelah satu persatu jamaah pulang, ibu ini minta waktu khusus untuk curhat. Dia bilang punya problem khusus dengan adiknya, perempuan juga. Sama-sama sudah berkeluarga, sama-sama berhijab syar’i, namun meski sama-sama ketemu di rumah ibu mereka saat Idul Fitri, mereka tak bicara satu sama lain. Bahkan saling menatap wajah pun tak mau. “Ini sudah berlangsung 5 tahun, Ustadz. Bagaimana solusinya?”

Saya minta diceritakan lebih detil penyebab _communication breakdown_ itu. Dia ceritakan lebih jauh, dan terlihat ada satu MASALAH (saya menyebutnya “pseudo masalah” karena itu baru di permukaan). Saya perdalam terus rinciannya sampai akhirnya terdeteksi SUMBER MASALAH.

*Curhat 2*
Sepasang pasutri dengan karier masing-masing yang bagus dan berkantor di kawasan Segitiga Emas Jakarta menghadapi masalah dengan anak tunggal mereka yang mau lulus SMA. Bukan, ini bukan masalah _drugs_ atau seks bebas yang menerpa sang anak semata wayang mereka. Harapan masa depan keluarga.

Anak mereka bersekolah di sebuah SMA swasta dengan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar, setelah sebelumnya saat SMP dan SD di sekolah swasta Islam sangat terkenal. Nilainya selalu bagus. Teman-temannya memanggil anak itu “tuhan” karena kepintarannya dalam menjelaskan – hampir – semua fenomena alam dan sosial.

Jadi masalahnya apa? “Anak saya bulan lalu mengatakan dia sekarang atheis. Dunia saya rasanya kiamat,” ujar sang ibu sambil meremas ujung hijab syar’i. “Apalagi habis lulus SMA ini dia akan berangkat ke (sebuah negara Barat). Sudah diterima oleh satu kampus di sana. Bagaimana saya menghadapi ini, Ustadz?”

Saya minta dipertemukan dengan sang anak. Diskusi selanjutnya berlangsung di rumah mereka. Dan memang, anak itu cerdas. Penampilannya tipe pemikir. Kurus-jangkung, kacamata, _nerdy_. Dari obrolan yang awalnya sangat sulit itu, meski akhirnya mencair, terlihat ada satu MASALAH (juga “pseudo masalah” karena sebetulnya baru di permukaan kulit ari saja). Saya gali terus informasi dari mereka bertiga, akhirnya terdeteksi juga SUMBER MASALAH.

*Curhat 3*
Sepasang pasutri duduk di ruang tamu saya. Sang suami berusia jelang 50, sang istri mid-40. Dari penampilan sang suami, dia terlihat “lebih ustadz” dari saya: janggut lebat dan panjang, tanda hitam di dahi, dan celana _cingkrang_. Sang istri juga terlihat bak ustadzah: anggun, dengan wajah khas sentuhan _skin center_. Mereka keluarga kelas menengah. Propic WA sang suami adalah foto diri mengayun stik golf. “Hobinya memang golf, Ustadz. Bukan cuma di Indonesia juga di negara-negara tetangga,” ujar sang istri di awal pembicaraan.

Keduanya bicara sangat lembut dan santun satu sama lain. Salah satu pasangan paling serasi yang pernah saya temui — jika mengenyampingkan masalah yang mereka sampaikan. Apa masalahnya? Nah ini! Mungkin saya tak percaya jika mendengar dari orang lain karena terdengar seperti skenario sinetron picisan.

Sang suami yang eksekutif sebuah perusahaan kontruksi satu ketika bertemu dengan – sebut saja X – perempuan muda yang berumur 3 tahun lebih tua dari anak pertamanya. Mereka terlibat cinta membara, namun dalam sebulan diketahui sang istri. Kesepakatan tercapai: sang suami minta maaf, mengaku khilaf. Maaf diberikan. Kehidupan berjalan. Lima tahun setelah itu, anak sulung mereka yang hampir lulus Fakultas Kedokteran tak sengaja melihat IG si X. Dia kaget karena ternyata ada foto ayahnya dengan X yang sedang hamil. Foto baru. Masalah lama meledak lagi di keluarga itu.

Sang suami bilang kepada saya, bahwa dia sudah menikah siri dan – sekitar 7-10 hari dari pembicaraan kami saat itu – X akan melahirkan bayi pertama mereka. Sang istri tua tidak terima dan memberikan ultimatum kepada suaminya – dengan sangat lembut tanpa teriak-teriak di depan saya – mau pilih dia atau si X. Kalau mau pilih dia, maka sang suami harus ceraikan si X sebelum proses kelahiran bayinya. Kalau suaminya memilih X, sang istri rela dicerai meski sudah hampir 25 tahun berumah tangga. Bagaimana keputusan sang suami? Dia tetap ingin bersama istrinya selama ¼ abad itu, tetapi juga tak mau melepaskan X.

Setelah pembicaraan kami sekitar 2 jam yang intens dengan pertukaran dalil, akhirnya terbuka juga pemicu MASALAH mereka. Tetapi inipun baru “pseudo masalah” yang ada di permukaan. Baru beberapa saat setelah itu dengan makin intensnya pembicaraan, saya menemukan SUMBER MASALAH yang sebenarnya.

*Resume*
Ketiga kasus di atas sekilas terlihat memiliki struktur masalah yang berbeda. Akan tetapi SUMBER MASALAHNYA ternyata *sama* . Penyebabnya adalah tiga faktor ini: (1) Shalat yang lalai, (2) Baca Al Qur’an yang abai, dan (3) Kurang berbakti kepada orang tua.

Dalam pengamatan saya lebih jauh, nyaris sebagian besar problem muslim modern bersumber pada salah satu, atau kombinasi dari, ketiga faktor ini. Jika ketiga faktor ini diperas lagi, maka penyebab yang paling fundamental adalah *karena interaksi dengan Al Qur’an yang tak terjaga*.

Sekilas ini terdengar aneh, bagaimana dari tiga contoh kasus di atas yang melibatkan jamaah pengajian, kok bisa interaksi mereka dengan Al Qur’an tidak terjaga atau tidak intens? Ternyata memang begitulah adanya. Tidak semua yang terlihat aktif di permukaan sebagai jamaah pengajian, otomatis pasti baik juga kualitas interaksi mereka dengan Al Qur’an. Dengan kehidupan modern yang hiruk, tak sedikit yang sudah tak punya waktu membaca Al Qur’an harian (satu juz sehari) apalagi mengkhatamkan dalam sebulan. Bahkan ada juga yang dari Ramadhan ke Ramadhan pun masih “tak sempat” juga mengkhatamkan Al Qur’an.

Padahal jika interaksi seseorang dengan Al Qur’an terjaga, semisal tiap hari membaca dan mencermati pesan-pesan Qur’ani, maka problem-problem kehidupan seperti kurang berbakti kepada orang tua akan teratasi dengan sendirinya mengingat cukup banyaknya ayat-ayat Al Qur’an yang mengingatkan masalah ini (2: 233, 31: 14-15, 46: 15).

Pun bagi mereka yang lalai atau sulit khusyu’ dalam shalat. Salah satu penyebabnya adalah stok hafalan bacaan yang itu-itu saja akibat jarang mengakrabi kitab suci. Bukti empiris menunjukkan orang-orang yang tidak lalai dengan shalat mereka, khusyu’, biasanya adalah juga orang-orang yang intens membaca Al Qur’an, mengetahui arti ayat per ayat yang dibaca, merenungkan makna dan hikmah yang terkandung di dalamnya.

Orang-orang yang terus memperbaiki kualitas interaksinya dengan Al Qur’an akan semakin baik juga kualitas shalatnya, yang berdampak pada caranya dalam menjalani kehidupan.
*Kesimpulan*
Saat terjadi masalah, cara mengatasinya jangan hanya berhenti pada analisis di tahap permukaan saja yang seperti: _sibling rivalry_ (perseteruan saudara sekandung) yang membuat komunikasi macet, atau anak yang terpapar pengaruh negatif lingkungan, atau kebahagiaan perkawinan yang memudar seiring makin lamanya usia pernikahan.

Menyelamlah lebih dalam untuk menemukan sumber masalah sebenarnya. Niscaya akan ditemukan bahwa akar persoalan terletak pada: macetnya saluran komunikasi dan kualitas komunikasi dengan Sang Maha Pencipta, Allah Azza wa Jalla. _Bad signal._

Solusinya, rapikan lagi “frekuensi komunikasi ilahiyah” itu dengan mengakrabi Al Qur’an sepenuh cinta, penuh semangat. Mulailah dari sekarang di bulan penuh keberkahan Ramadhan yang juga berjuluk _Syahrul Qur’an_ — bulan (turunnya) Al Qur’an — ini.

Selamat beri’tikaf, selamat menjalani 10 hari terakhir Ramadhan dengan penuh kegembiraan. Selamat bercengkerama dengan Al Qur’an, dan Setelah itu saksikanlah bagaimana masalah demi masalah akan tersingkir dengan sendirinya dari kehidupan kita. Atas izin Allah Maha Pengasih Maha Penyayang.

Cibubur,
malam ke-21 Ramadhan/
25 Mei 2019

_PS_ :
Kenapa judul posting ini “Curhat Emak-emak” bukan “Curhat Bapak-bapak”? In syaa Allah untuk “Curhat Bapak-bapak” akan ada tulisan berbeda. Sabar ya 😊

_PPS_ :
Tulisan ini boleh disebarluaskan tanpa meminta izin, sepanjang nama penulis tetap disertakan. Untuk tanggapan dan komentar, silakan kirim via email: akmal.n.basral@gmail.com

Memang pengalaman-pengalaman rohani itu bersifat individual. Tapi banyak orang sepakat bahwa pengalaman luar biasa selama puasa di Haram (masjid Nabawi di Madinah dan Masjidil Haram di Mekkah) jadi pelajaran hidup yang tidak bisa dilupakan.
Niat saya mencatat dan menuliskan pengalaman ini bukan bermaksud riya (Nauzubillah) tapi untuk berbagi dengan anak dan cucu, tapi mungkin juga ada manfaatnya bagi saudara, anggota grup FB ini.

Kebiasaan orang mengisi I’tikaf antara lain adalah dengan membaca alquran dan berdoa.
Demikian Juga di Masjidil Haram. Karena cukup penat duduk berjam-jam, sebagian dari shaimun/yang puasa berbaring untuk meluruskan badannya. Ada juga yang melanjutkan bacaannya dengan duduk di kursi, yang memang disediakan dipintu masuk masjid.

Saya biasanya berkenalan dengan orang orang yang berada disamping kiri kanan saya.
Sewaktu saya membaca quran, orang yang disamping kanan saya juga membaca quran sebagaimana yang lainnya. Tapi dilakukannya sambil mengotak atik hand phonenya. Hati saya berkata kata: “siapa sih orang nih, main-main saja kerjanya. Orang jauh-jauh datang beribadah, sedang dia ngotak atik tilpon !”.
“Min fin Antum? Takalam Arabi au Injlizi? ”. Saya buka perkenalan dengan bertanya sebisa saya dalam bahasa Arab. Kira-kira artinya : Kamu asalnya darimana. Bisa berbahasa Arab atau Inggris?
“ Ana min Nigeria” Saya dari Nigeria. Tidak bisa bahasa Inggris, hanya bahasa Arab saja.
“Kam umruk”/Berapa usia mu?. Biarpun agak kurang sopan bertanya umur bagi sementara orang, tapi waktu sama-sama di Masjidil Haram tersebut kita merasa seperti satu keluarga besa walau datang dari berbagai belahan dunia , tapi dengan tujuan yang sama: Mencari ridhonya Allah. Jadi saya merasa ok ok saja bertanya umur, nama dan pekerjaannya: Dia mengatakan namanya Moh Idris, usianya 28 tahun, guru disebuah sekolah agama di Borno, sekitar 700 km dari ibukota Nigeria: Abuja.

Supaya tidak salah2, saya bertanya lagi: Kamu hafal quran berapa juz?. Oh Saya hafal quran 30 juz sejak umur 10 tahun”. . Katanya dengan nada biasa.
Bagai disengat lebah badan saya. Karena saya fikir dia orang biasa seperti saya yang kalau mengaji ada perjuangan tersendiri. Ternyata hafal quran penuh tigapuluh juz sudah 18 tahun yl. Allah Akbar! Saya sudah salah sangka padanya. Jangan jangan sambil main Hape itu dia lagi mengulang hafalannya !.

Kata orang-orang penghafal quran, yang paling susah bukan mengafalnya tapi menjaga hafalan itu. Lalu pertanyaan saya berikutnya:
“Bagaimana cara kamu menjaga hafalanmu”.
Dengan tenang dia menjawab:. “Saya tiap hari terus baca quran”.
”Berapa juz perhari?” Saya tanya lagi. Tetap dengan tenang dia mengatakan 15 juz” Apa ? berapa juz?, saya yakinkan lagi dengan pertanyaan itu supaya saya tidak salah dengar. Dijawabnya lagi dengan bahasa Arab: Khamsta Asy juz: Artinya 15 juz.

Seperti tertampar saya mendengarnya. Terasa kerdil saya didepan sipemuda ini. Tidak ada apa-apanya saya dibandingkan dengan Moh.Idris ini. Artinya dua hari sekali dia khatam quran, Allahu Akbar!!

Karena lama di Jakarta, sudah terbiasa tidak langsung percaya pada informasi yang diterima. Saya katakana begini padanya:
“Boleh nggak kamu saya test”.
“Tafadhal/Silahkan” katanya. Lalu saya ambil quran dan saya balik halaman sembarangan. Saya baca dua tiga suku kata. Masya Allah, tanpa jedah/berhenti dia langsung melanjutkan menyelesaikan satu ayat tsb. Saya masih penasaran. Saya minta izin untuk menguji berikutnya, dengan halaman yang berbeda. Seperti test yang saya berikan pertama, Moh Idris lansung tanpa berhenti menyelesaikan ayat tsb. Sampai lima kali saya test semua nya dengan hasil yang mencengangkan.

Sekedar untuk perbadingan, kalau kita cari data di computer, perlu sedikit waktu utk computer loading. M.Idris tidak perlu loading tapi otomasis, tambah yakin saya bahwa dia betul2 hafal dan mengaji setiap hari 15 Juz. Sebulan 15 kali khatam. Sudah lama pula saya hidup, baru pertama kali ini saya menjumpai orang yang membaca quran dengan hafalan sebanyak itu.

Karena saya masih terkagum kagum, saya jelaskan pada teman samping kiri saya. Seorang pengusaha dari Karachi, Pakistan. “OK” sambutnya dengan antusias. “Saya juga akan test dia” ujarnya. Sewaktu teman Pakistani ini mencoba dengan membaca awal ayat. Moh Idris malah mengatakan: “Bukan begitu, yang anda baca itu seharusnya begini, sambil dia memperbaiki bacaan Pakistani tsb. Orang Pakistan itu mungkin malu, malah tidak jadi ngetest Moh.Idris.. . hehehehe

Sambil saya tepuk-tepuk pundaknya, basah mata saya karena terharu. Ternyata saya salah sangka. Maha Benar Allah yang melarang kita untuk merasa hebat dari orang lain. Ternyata kita tidak ada apa-apanya. Bersyukur saya kepada Allah yang telah “mengirimkan” Moh Idris, untuk mengikis ego yang ada dalam diri. Sering sekali tanpa sengaja kita merasa lebih dari orang lain, Nauzu billah min zalik.

Selain Moh Idris, saya juga sempat berkenalan dengan seorang jamaah dari Jawa Timur. Dia mengatakan hampir setiap tahun di bulan puasa dia dengan istrinya selalu berpuasa di Madinah dan Mekkah. Waktu saya tanya pekerjaannya. Dia mengatakan sebagai guru. Dalam pikiran saya, sekitar guru SD,atau SMP/SMA, ternyata dia guru besar disuatu perguruan tinggi di Jatim dan sebagai petani yang kaya. Jadi lagi-lagi jangan anggap remeh orang disekeliling kita.

Ternyata benar sikap para ahli ibadah: pantang bagi mereka untuk menganggap rendah orang yang baru dikenalnya. Karena mereka selalu beranggapan: Mungkin orang ini jauh lebih alim, lebih taqwa. Lebih banyak amalnya, , lebih banyak sedekahnya dan lebih dekat dengan Tuhan Rabbul Alamin.

Demikianlah anak dan cucuku, bahwa perasaan merasa lebih dari orang lain haruslah tidak menjadi bagian dari sikap hidup kita. Bukan saja dalam beragama tapi juga dalam kehidupan sehari hari. Kalaupun ada sedikit kelebihan pada kita, harus disyukuri. Karena Allah melarang kita mengatakan bahwa harta,jabatan dll milik kita karena kita hebat. Tapi semua itu karena kasih sayang Allah.

Dengan apa yang saya alami ini, saya teringat akan sebuah hadis Rasulullah. Sewaktu seorang sahabat bertanya kepada Rasul. “ Ya Rasul, tunjukkanlah amal yang dapat membuat manusia dan Allah sayang kepadaku. Rasul menjawab: Zuhudlah kepada Allah, maka Allah akan senang kepadamu, dan Zuhudlah kepada manusia, maka manusia akan senang kepadamu. Zuhud: sederhana/rendah hati.

Dalam sujud saya yg lamaa, saya berdoa : ya Allah, jauhilah sifat sombong , angkuh, merasa diri lebih dari yang lain. Terima kasih terhadap semua karuniaMu padaku dan keluargaku. Cucurkan lah selalu RahmatMu kepada ku, kepada keluargaku dan kepada kaum Muslimin dan muslimat ya Allah. Ternyata ya Allah banyak benar hambaMu yang luar biasa dekatnya dengan Mu. Luarbiasa amalnya kepadaMu, Aku tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan hamba-hambaMu yang hebat itu. Makin terasa kerdilnya diri ini dihadapanMu ya Allah yang Maha Pengasih dan Maha Perkasa. Bantulah aku ya Allah untuk selalu mengingatMu dan selalu bersyukur kepadaMu. Amin ya arhamarrahimin.

#GrandParenting.

#copas Fp Parenting Rumah Keluara Risman

TOTAL BERGANTUNG

*_Assalamu’alaykum warohmatullahi wabarokatuh_*

*_Semangat Subuh_*

Ada seorang raja yang gemar berbohong, kemudian saat kebohongannya diungkap di depan rakyatnya ia justru marah dan menghabisi orang yang mempermalukannya itu. Siapakah dia? Dialah Namruz.

Namruz membuat kebohongan bahwa ia adalah tuhan bagi rakyatnya. Kemudian datanglah Nabi Ibrahim menantang sang raja di hadapan orang banyak untuk menghidupkan dan mematikan.

Namruz lantas menghadirkan dua orang dari kalangan rakyatnya sendiri. Dengan mudahnya ia menjatuhkan hukuman mati kepada salah satunya dan membebaskan yang satu lagi. Nyawa rakyat tak ada harganya di mata sang raja.

Tentu saja hal ini bukan perbuatan menghidupkan dan mematikan. Ia hanya membiarkan hidup dan membiarkan mati.

Namruz tidak peduli, orang-orang dipaksa mengakui kekuasaan tersebut. Lalu Nabi Ibrahim kembali menantang apakah ia kuasa untuk menerbitkan matahari dari barat dan menenggelamkan ke timur. Kali ini Namruz pun kalah.

Tapi sang raja tetap tidak mau mengakui kekalahan. Dia justru menangkap Nabi Ibrahim karena merasa kedudukannya sebagai raja terancam. Hal ini diabadikan dalam Surat Al-Baqarah ayat 258.

Nabi Ibrahim tak punya kekuatan melawan sang raja. Ia hanya seorang diri, sedangkan Namruz mengendalikan seluruh perangkat negeri, mulai dari para prajurit kerajaan hingga para hakim kerajaan.

Allah menempatkan kekasih-Nya itu dalam keadaan yang sangat tersudut. Allah menguji Nabi Ibrahim hingga pada titik di mana tak ada satupun tempat bergantung dan memohon pertolongan kecuali hanya kepada-Nya.

Dalam keadaan seperti inilah, Nabi Ibrahim menyerahkan sepenuhnya kepada Allah. Ia sudah total bergantung hanya kepada Allah. Ia sudah merasa cukup bahwa Allah sajalah yang menjadi Penolongnya. Seperti disebutkan Rasulullah,

حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ قَالَهَا إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ السَّلَام حِينَ أُلْقِيَ فِي النَّارِ

“Hasbunallah wa Ni’mal Wakil adalah suatu kalimat yang dibaca oleh Nabi Ibrahim ketika dilempar ke dalam api yg membara,”

(Hadist Riwayat Bukhari)

Sejarah pun mencatat, bahwa Allah akhirnya menolong Nabi Ibrahim dan menggulingkan penguasa yang gemar berbohong tersebut. Ketika sang raja menunjukkan kekuasaannya, maka Allah juga menunjukkan Kekuasaan-Nya.

Suatu hari nanti kita juga akan merasa telah berada pada titik di mana tak ada satupun tempat bergantung dan memohon pertolongan kecuali hanya kepada-Nya.

Jika hari itu tiba, marilah kita ikuti jejak Nabi Ibrahim untuk total bergantung kepada Allah. Sehingga Allah pun akan menunjukkan Kekuasaan-Nya kepada sang raja yang sedang menunjukkan kekuasaannya.

Salam Hijrah.
⏰ Waktunya bangun dan berubah dari tidur panjang kita!

✍🏻 Ustadz Arafat

https://t.me/semangatsubuh

*_Selamat menunaikan ibadah sholat subuh semoga Allah menerima amal ibadah kita Aamiin_*

Assalamualaikum warahmatullahi wa baroqatuh.

Sahabatku……
1400 tahun yang lalu Rasulullah telah banyak menggambarkan tentang bagaimana kondisi umat akhir zaman nanti.
Beberapa hadist diantaranya seolah olah menggambarkan kondisi yang sangat identik dengan realita yang sedang dialami oleh Umat Islam Indonesia saat ini.

– Hadist pertama

ZAMAN YANG SEMAKIN MEMBURUK.

Rasulullah ﷺ bersabda :

لا يأتي عليكم زمان إلا والذي بعده شر منه حتى تلقوا ربكم ) أخرجه البخاري في صحيحه من حديث الزبير بن عدي.

Artinya :
“Tidaklah datang kepada kalian suatu masa kecuali setelahnya lebih jahat dari sebelumnya, sehingga engkau akan bertemu dengan Allah (Robb kalian).” (HR. Bukhari).

Hadist di atas sangat relevan dengan kondisi yang dialami oleh Umat Islam saat ini. Karena keadaan saat sekarang ini lebih buruk dari sebelumnya. Umat Islam di bantai dimana mana.

– Hadist kedua

PENGUASA YANG PENINDAS

Lihatlah keadaan sekarang ini para penguasa yang berbuat sewenang-wenang , Dana haji pun mereka gunakan untuk insfraktuktur sehingga umat Islam harus menunggu 10 sampai 15 tahun untuk bisa menunaikan ibadah haji.

Rasulullah ﷺ bersabda :

…..ثم تكون ملكا عاضا فيكون ماشاءالله أن يكون……
Artinya:
Kemudian akan ada kerajaan (penguasa) yang penindas yang berlangsung sampai masa yang dikehandaki Allah…
(HR. Albaihaqi).

Namun Rasulullah ﷺ dahulu mendo’akan para pemimpin dan penyelenggara negara yang telah menyengsarakan rakyatnya.

Hadits dari ‘Aisyah Rodhiallahu ‘Anha, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berdoa:

اللَّهُمَّ مَنْ وَلِيَ مِنْ أمْرِ أُمَّتِي شَيْئاً فَشَقَّ عَلَيْهِمْ ، فاشْقُقْ عَلَيْهِ ، وَمَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئاً فَرَفَقَ بِهِمْ ، فَارفُقْ بِهِ
Artinya :
Ya Allah, barang siapa yang diberikan amanah mengurus urusan umatku lalu dia mempersulit mereka maka persulitlah dia, dan barang siapa yang diberikan amanah mengurus urusan umatku lalu dia berlaku baik kepada mereka, maka, perlakukanlah dia dengan baik pula.
(HR. Muslim)

– Hadist ketiga

PENGUASA YANG PENIPU.

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

«سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ، يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ، وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ، وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ، وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ، وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ» ، قِيلَ: وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ؟ قَالَ: «الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ»
Artinya ;:
“Akan datang ke pada manusia tahun-tahun penuh kebohongan, saat itu pendusta dibenarkan, orang yang benar justru didustakan, pengkhianat diberikan amanah, orang yang dipercaya justru dikhianati, dan Ar-Ruwaibidhah berbicara.” Ditanyakan: “Apakah Ar-Ruwaibidhah?” Beliau bersabda: “Seorang laki-laki yang bodoh (Ar Rajul At Taafih) tetapi sok mengurusi urusan orang banyak.”
(HR. Ibnu Majah No. 4036. Ahmad No. 7912. )

– Hadist ke empat

PENJAGA KEAMANAN YANG TIDAK TA’AT KEPADA ALLAH.

Hadist ini sangat nyata dengan apa yang sedang kita hadapi sekarang ini ,dimana KPU yang dipercayakan rakyat untuk menghitung suara pemilu mereka telah melakukan kecurangan dalam penghitungan suara.

Rasulullah ﷺ bersabda :

“سَيَكُونُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ شَرَطَةٌ، يَغْدُونَ فِي غَضِبِ اللَّهِ، وَيَرُوحُونَ فِي سَخَطِ اللَّهِ، فَإِيَّاكَ أَنْ تَكُونَ مِنْ بِطَانَتِهِمْ”.

Artinya :
“Akan datang di akhir zaman adanya petugas keamanan yang di pagi hari di bawah kemurkaan Allah, dan sore harinya di bawah kebencian Allah. Hati-hatilah kamu menjadi bagian dari mereka.”
(HR. Ath Thabarani 7616)

– Hadist ke lima

MEMBENCI ARAB

Dan hadist ini pun telah terjadi pada akhir ini baik kelompok atau perorangan yang dengan terang terangan membenci Arab , mulai dari menghina ulama , ingin menghapus agama Islam , bahkan sampai berani menghina Rasulullah.

Rasulullah ﷺ bersabda :

يا سلمان لا تبغضنى فتفارق دينك. قلت يارسول الله كيف ابغضك وبك هدانا الله. قال تبغض العرب فتبغضني
Artinya :
Wahai Salman. Janganlah kamu membenciku. Hal itu akan berdampak engkau akan terlepas dari Agamamu. Salaman bertanya ; Bagaimana aku membencimu. Pada hal kami mendapat Hidayah karena keberadaanmu?. Engkau membenci Arab maka kau telah membenciku.
(HR. At Tirmidzi No. 3927,)

– Hadist ke enam

PENGUASA YANG SUFAHA

SUFAHA adalah pemimpin yang lebih mengutamakan orang-orang jahat sebagai pembantunya namun mereka mencitrakannya sebagai orang-orang baik. nabi telah mengingatkan bahwa barang siapa yang mendapatkan zaman tersebut, janganlah mau menjadi mentrinya, polisinya, pemungut pajak nya dan menjadi bendaharanya.

Rasulullah bersabda :

ليأتين على الناس زمان يكون عليكم امراء سفهاء يقدمون شرار الناس و
يظهرون بخيارهم ويؤخرون الصلاة فمن ادرك منكم فلا يكون عريفا ولا شرطيا ولاجابيا ولا خازنا.
Artinya :
Akan datang suatu masa kepada umat manusia, pemimpinnya adalah sufaha, lebih mengutamakan orang-orang jahat sebagai pembantunya namun mereka mencitrakannya sebagai orang-orang baik. Mereka selalu mengakhirkan sholat. Barang siapa yang mendapatkan zaman tersebut, janganlah mau menjadi mentrinya, polisinya, pemungut pajakanya dan bendaharanya.
(Hadits Shohih menurut Ibnu Hibban. Dan Hasan menurut Al Albani )

– Hadist ke tujuh

ZINA DAN RIBA MERAJA LELA

Lihatlah keadaan sekarang ini LGBT di rangkul ,tempat tempat portitusi semangkin marak, praktek riba dimana mana sehingga banyak umat yang menjadi korbannya.

Dari Ibnu ‘Abbas Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

إِذَا ظَهَرَ الزِّنَا وَالرِّبَا فِي قَرْيَةٍ فَقَدْ حَلُّوا بِأَنْفُسِهِمْ كِتَابَ اللهِ.

Artinya :
Jika zina dan riba sudah muncul di sebuah negeri maka mereka telah menghalalkan azab yang ditetapkan Allah ﷻ .
(HR. Al Baihaqi No. 5416. )

– Hadist ke delapan

JUMLAH ULAMA SEMAKIN SEDIKIT

Maksudnya adalah jumlah ulama yang benar benar Istiqomah pada aturan Allah jumlahnya semakin sedikit. Sementara banyak muncul ulama ulama palsu yang cinta harta dan jabatan , mereka rela menjual ayat ayat Allah dan rela memutar balikkan makna ayat Al Qur’an demi uang dan jabatan ,sehingga orang orang yang awam menjadi bingung harus mengikuti ulama yang mana.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا
Artinya :
Sesungguhnya Allah tidaklah menghapuskan ilmu begitu saja dari manusia. Tapi dihapuskannya dengan mewafatkan ulama, sampai Ulama tidak tersisa. Manusia pun mengambil tokoh-tokoh bodoh, lalu mereka ditanya, dan berfatwa tanpa ilmu sehingga mereka sesat dan menyesatkan.
(HR. Al Bukhari)

– Hadist ke sembilan

KONDISI UMAT TIDAK BERKUALITAS.

Kondisi umat tidak berkualitas lagi , karena demi jabatan seseorang memimpin tugas yang padahal dia sendiri tidak memiliki ilmunya , maka dia berbuat sesuatu menurut akal pikirannya yang pada akhirnya menjadi kacau balau sehingga rakyat yang menjadi korbannya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

يوشك الأمم أن تداعى عليكم، كما تداعى الأكلة إلى قصعتها. فقال قائل: ومِن قلَّةٍ نحن يومئذ؟ قال: بل أنتم يومئذٍ كثير، ولكنكم غثاء كغثاء السَّيل، ولينزعنَّ الله مِن صدور عدوِّكم المهابة منكم، وليقذفنَّ الله في قلوبكم الوَهَن. فقال قائل: يا رسول الله، وما الوَهْن؟ قال: حبُّ الدُّنيا، وكراهية الموت.

Artinya :
“Hampir-hampir bangsa-bangsa memperebutkan kalian (umat Islam), layaknya memperebutkan makanan yang berada di mangkuk.” Seorang laki-laki berkata, “Apakah kami waktu itu berjumlah sedikit?” beliau menjawab: “Bahkan jumlah kalian pada waktu itu sangat banyak, namun kalian seperti buih di genangan air. Sungguh Allah akan mencabut rasa takut kepada kalian, dan akan menanamkan ke dalam hati kalian Al Wahn.” Seseorang lalu berkata, “Wahai Rasulullah, apa itu Al Wahn?” beliau menjawab: “Cinta dunia dan takut mati.”
(HR. Abu Daud No. 3745)

Subhanallah…
Betapa gambaran yang telah disabdakan oleh Rasulullah ﷺ diatas sangat identik dengan realita yang sedang dialami oleh Umat Islam saat ini.
Kendati demikian … Sebagai warga negara kita
Masih mempunyai Harapan kebangkitan Umat Islam, dan keadilan tetap masih ada, selama masih ada kelompok kelompok yang baik atau pemimpin yang jujur dan sholih.

Para Ulama dan Umat sudah bersatu dengan tekad bersama-sama berjuang dalam Menegakkan Kebenaran dan keadilan demi terwujudnya negara yang adil dan beradab.

Allah ﷻ berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا خُذُوا حِذْرَكُمْ فَانْفِرُوا ثُبَاتٍ أَوِ انْفِرُوا جَمِيعًا

Artinya :
Hai orang-orang yang beriman, bersiap siagalah kamu, dan majulah (ke medan pertempuran) berkelompok-kelompok, atau majulah bersama-sama.
(QS. An Nisa ayat: 71)

Para Pemuda Muslim sudah siap untuk berjuang berjihad bangkit dan memiliki semangat yang berbeda api api untuk menegakkan kebenaran.

Allah SWT berfirman :

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُمْ بِالْحَقِّ ۚ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى
Artinya :
Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk.
(Qs. Al Kahfi ayat : 13)

Umat Islam harus sadar bahwa dirinya harus meningkatkan taqwa-nya kepada Allah ﷻ dan berusaha untuk istiqomah dijalan taqwa itu.

Dari Tsauban Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ كَذَلِكَ
Artinya :
“Ada segolongan (thaifah) umatku yang senantiasa di atas kebenaran, tidaklah memudharatkan mereka orang-orang yang memusuhi mereka, sampai Allah datangkan urusannya (kiamat), dan mereka tetap demikian.”
(HR. Muslim No. 1920)

Para ulama telah bersatu dengan Umat dan telah memiliki keberanian menasehati calon pemimpin agar patuh pada perintah ulama.

Dari Abu Sa’id Al Khudri Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ مِنْ أَعْظَمِ الْجِهَادِ كَلِمَةَ عَدْلٍ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ
Artinya :
Sesungguhnya jihad yang paling agung adalah mengutarakan perkataan yang benar dihadapan pemimpin yang zalim.
(HR. At Tirmidzi No. 2329, ).

Sahabatku….
Kemenangan sudah di depan mata, maka marilah kita berupaya agar menyuarakan kebenaran dan harus meyakini bahwa tidak ada tempat bersandar kecuali mohon pertolongan kepada Allah.

Wallahu a’lam bissawab.

_______________________________

Tulisan diatas saya copas dari wag LBH PETA

Fb. Irene Radjiman

%d blogger menyukai ini: