Feeds:
Pos
Komentar

✍️ Aa Gym

Saudaraku. Misalkan ada yang berikhtiar mencari sebuah rumah. Rumah itu ada di tengah hutan pegunungan yang luas. Orang itu hanya tahu ada rumah di sana, tapi ia tidak tahu alamat maupun arahnya. Lalu, karena merasa, kuat, berani, dan keren, dia langsung masuk saja ke dalam hutan. Ia pun mengabaikan papan peringatan.

Akibatnya, setelah menempuh beberapa puluh meter ia mulai bingung dan gugup. Mencapai seratusan meter sudah sering terpeleset, dan memaki-maki hutan yang menanjak dan curam. Maju lagi sekian langkah makin pusing, karena berjalan sambil tak henti berpikir. Hingga ia pun menggigil saat mendengar ada suara mengaum. Saat itu ia tersadar sedang berpegangan pada papan Peringatan.

Lalu, ia melihat lagi apa yang tertulis di sana: ”Bagi Yang tidak tahu jalan, silakan melapor dan pasrahkan sepenuhnya kepada kami. Akan kami antarkan sampai tujuan dengan tepat dan selamat.” Ia meneriaki dirinya sendiri, “Mengapa tidak melapor dari tadi? Saya benar – benar bodoh!”

Kemudian ia melapor. Disampaikannya bahwa ia mencari sebuah rumah di dalam hutan. Tanpa berani menceritakan apa yang telah dialami sebelumnya. Tapi sebetulnya penunjuk jalan juga sudah menyaksikan dari menara, serta dari pakaiannya yang kumal dan sobek Hanya pura-pura tidak tahu demi menjaga perasaan orang itu.

”Baiklah, sudah jadi janji kami untuk mengantarkan. Tapi tas yang setinggi badanmu ini isinya apa?”0rang itu menjawab,”lni hanya beras, alat masak, dan gas elpiji 12 kilo.””Tidak perlu! Tinggalkan semua, di hutan banyak makanan.Termasuk kedua galon air yang diikat di lehermu itu juga tinggalkan, di sana ada mata air.”

Setelah orang itu siap, penunjuk jalan berkata lagi. ”Kamu ikuti saja, saya sama sekali tidak akan menyesatkan. Dijamin sampai dan selamat kalau kamu pasrahkan sepenuhnya kepada saya. Karena saya juga yang membangun rumah itu.”laju mereka pun berangkat.

Ketika jalan mulai menanjak, orang itu berkata. “Mengapa harus lewat jalan menanjak?” Lalu dijelaskan bahwa di atas pegunungan banyak pohon buah“

buahan yang Iezat. ”Oh, ya!” katanya langsung semangat mendahului. Tak lama kemudian dia pun berteriak,”Ada babi hutan!” “Tenang,” kata penunjuk jalan, ”Babi hutan tak bisa belok, miring saja sedikit.”

Sesudah dirasa cukup, penunjuk jalan menuntunnya meneruskan perjalanan menuruni dinding bukit yang licin. ”Sudah naik, mengapa turun lagi? Apalagi ini licin,” kata orang itu. Lalu dijawab bahwa di bawah ada mata air yang jernih dan segar. Maka dia pun jadi semangat meluncur.

Saudaraku, dari ilustrasi kisah ini, ada hikmah yang dapat kita petik. Hikmahnya, kita harus patuh dan pasrah saja kepada Allah. Sebab Allah adalah Pemilik kita. Allah Yang Mahabaik Iebih menghendaki kita bahagia dibanding kita sendiri. Karena itu kita diberi beragam peraturan. Tapi kita sendiri yang suka memilih melanggar dengan sok pintar dan sok keren. Sehingga hidup kita sendiri pula yang diliputi kebingungan, resah, gelisah, dan sengsara.

Allah Pemelihara dan Penjamin kita. Dia-Iah yang paling menginginkan kita selamat menjadi ahli surga. Sedang kita sendiri kurang ingin ke surga. Cirinya, kita suka berbuat maksiat yang mencelakakan diri, serta kurang berani mengakui dan menyesa|i kesalahan sendiri. Kita kurang mau menuruti-Nya. Padahal seluruh perintah

Allah SWT itu merupakan jalan ketenangan, kebahagiaan dan keselamatan.

Seperti salat kita yang asal, rakus saat ada makanan, dan sering bermaksiat. Kalau Allah gemas pada kita, minimal kita sudah disambar petir.Tetapi Allah Yang Maha Pengasih, Penyayang dan Pengampun masih memberi kita kesempatan untuk segera memperbaiki diri. Agar kita cepat bertobat, patuh, dan memasrahkan hidup dan mati kita hanya kepada-Nya.

Sama dengan ketika langkah hidup kita mulai sedikit mendaki, maka kita mulai berburuk sangka kepada Pencipta setiap takdir. Begitu pula saat jalan hidup agak menurun, kita juga mulai suka protes kepada Penentu setiap ketentuan. Padahal mau bagaimana pun hidup kita, Penggenggam seluruh rencana dan ketentuan adalah Yang Mahasuci lagi Maha Adil. Allah Yang Mahakuasa memilihkan apa yang terbaik untuk kita, dan Dia Maha Mengetahui.

Saudaraku.Tawakal adalah puncak ikhtiar.Tidak hanya akal dan fisik yang berikhtiar penuh, tapi hati pun harus sepenuhnya pasrah kepada Allah. Ahli tawakal itu derajat para kekasih Allah. Kita harus terus mengupayakannya sebagaimana Rasulullah SAW. Kita melihat bagaimana beliau profesional dalam memimpin dan mengelola umat, dan betapa sempurnanya tawakal beliau.

Doa Rasulullah Saw, ”Ya Hayyu, ya Qayyum, birahmatika astaghits wa aslih sya’ni kulIahu wa la takilni ila nafsi tharfata’ainin.” (Wahai Yang Mahahidup, dan mengurus segaIa-galanya terus menerus, dengan rahmatMu tolonglah saya, perbaiki urusan saya dan jangan serahkan kepada saya walaupun sekejap mata).

Rasulullah SAW orang yang paling pasrah, dan kepasrahan beliau total. Sekejap saja beliau tidak mau jika tidak ditolong Allah. Justru kepasrahan itulah yang ‘ mendatangkan ketenangan, ide, gagasan atau pun kemampuan.

Jadi, ayo kita sempurnakan ikhtiar dengan bertawakal. Serta apa pun takdir dan ketentuan yang diberikan Allah, maka kita harus ridha. Walaupun musibah datang bertubi-tubi, tetap harus kita sikapi dengan baik dan pasrahkan kepada-Nya.Termasuk terhadap sesuatu yang dianggap sangat mengancam, cukuplah Allah yang menjadi Pelindung kita.

Sebagaimana, ”Orang-orang yang menaati Allah dan Rasul, yang ketika ada orang-orang yang mengatakan kepadanya: ‘Sungguh orang-orang musyrik telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka,’ ternyata ucapan itu menambah kuat iman mereka dan mereka menjawab: ‘HasbunalIaah wa ni’mal Wakiil’ (cukuplah Allah bagi kami, dan Dia sebaik baik Pelindung).” (QS. Ali ‘Imran [3]: 173)

Dari Ibnu Abbas ra, beliau berkata, ”Lafaz ‘HasbunaIlaah wa ni’mal Wakiil’ pernah diucapkan oleh Nabi Ibrahim as ketika dilemparkan ke dalam kobaran api. Juga pernah diucapkan oleh Nabi Muhammad SAW ketika orang-orang telah berkata menakuti: ‘Sesungguhnya orang telah bersatu untuk memerangimu, maka takutlah kepada mereka,’ tetapi ucapan demikian itu justru menambah keimanan mereka dan berkata: ‘Hasbunallaah wa ni’mal Wakiil!” (H R. Imam Bukhari)

Saudaraku, pencari alamat rumah tadi, boleh jadi adalah ilustrasi masing-masing diri kita. Karena itu, mari kita lepaskan ransel, gas elpiji, dan galon air yang telah membuat hidup kita nelangsa. Maksudnya, jangan kagum atau cinta pada dunia! Baik harta, jabatan, pangkat, gelar. atau popularitas.

Patuh dan pasrahkan hidup kita hanya kepada Pemilik langit dan bumi. Di mana saja kita berada, Allah selalu bersama kita. Mudah-mudahan kita selalu ditunjuki. dilindungi, dan diridai-Nya hingga nanti tiba dengan selamat di Surga. HasbunaIlah wa Ni’mal Wakiil.

Reminder

Bukan telinga kita yang hilang, bukan pula pendengaran. Dua telinga Allah Ta’ala berikan dan keduanya memiliki ketajaman menangkap suara dengan baik. Pendengaran berfungsi normal. Tidak jarang sedemikian tajam telinga kita. HP yang sedang mode sunyi diletakkan di lantai, saat bergetar pun dengan sigap kita menangkapnya. Bukan karena merasakan getarnya, tetapi karena ada suara yang cepat tertangkap telinga.

Apakah yang terjadi pada diri kita? Suara motor berubah sedikit saja, segera gelisah hati kita karena khawatir ada masalah di sana. Begitu pula saat pintu mobil tak tertutup rapat saat kita mengemudi, telinga kita segera menangkap keanehan suara. Kita segera tahu karena begitu dekat dan penuh perhatian, sehingga merasa tidak mengkhususkan diri untuk mendengarkan pun, kita segera mengenalinya. Tetapi alangkah banyak anak yang tidak betah berbincang dengan kita sebab kita pun tak sabar mendengarkan penuturan mereka. Kita mendengar, tetapi bukan mendengarkan.

Bersebab tidak adanya kesabaran itulah maka kita tidak betah berlama-lama membiarkan mereka bertutur berbagi cerita. Baru saja ia mengungkapkan isi hati, buru-buru kita berpanjang-panjang menasehati. Baru saja anak bercerita, panjang lebar kita berkhotbah. Sementara ketika anak berbagi gagasan, bukan rasa antusiasme yang kita tunjukkan, tetapi hujan pujian yang kita berikan. Padahal saat anak membicarakan gagasan, bahkan sekedar cerita, yang ia perlukan adalah telinga yang mau bersungguh-sungguh mendengarkan. Bukan pujian. Apalagi pujian tergesa-gesa. Tidak tulus pula.

Malu rasanya mengingat akhlak Atha’ bin Abi Rabah, seorang ulama besar dari kalangan tabi’in. Ia seorang ahli tafsir, ahli fiqih dan perawi hadis. Tetapi tengoklah bagaimana akhlaknya saat mendengarkan penuturan orang muda. Atha’ bin Abi Rabah rahimahuLlah berkata, “Ada seseorang laki-laki menceritakan kepadaku suatu cerita, maka aku diam untuk benar-benar mendengarkannya seolah-olah aku tidak pernah mendengar cerita itu. Padahal sungguh aku pernah mendengar cerita itu sebelum ia dilahirkan.”

Inilah nasehat Atha’ bin Abi Rabah rahimahuLlah kepada murid-muridnya dan kepada kita semua; nasehat yang ditunjukkan dengan menuturkan contoh dari diri sendiri. Betapa bersemangatnya kita apabila saat bertutur disambut dengan kegairahan mendengarkan, seakan-akan apa yang kita tuturkan merupakan sesuatu yang baru dan sangat berharga. Betapa besar hati anak-anak kita kalau orangtua mempunyai telinga yang sempurna; berfungsi pendengarannya, berfungsi pula hati orangtua untuk mendengarkan sepenuh semangat, sepenuh kesungguhan.

Jika anak-anak tidak mendapati orang yang mau mendengarkan dengan penuh perhatian dan semangat, maka kemanakah anak-anak itu harus pergi untuk menemukan orang yang mau menyambut cerita dan gagasannya? Padahal tatkala anak didengarkan dengan baik, saat itulah ia lebih mudah menerima nasehat. Dan sebaik-baik nasehat adalah yang ringkas, padat, penuh makna.

Seperti pil, nasehat untuk anak itu hendaknya tidak berpanjang-panjang sampai-sampai anak tak kuat mendengarnya. Padahal mendengar belum tentu mendengarkan. Perbanyak “airnya” agar anak mudah menelan dan mencernanya dengan baik.

✍️ Ustadz Mohammad Fauzil Adhim

SALING MENGHANGATKAN

Ada seorang pria bernama Yankel, yang memiliki toko roti, di sebuah kota, Crown Heights, Jerman. Dia selalu berkata, “Kamu tahu kenapa aku hidup hari ini?”

Dia berkata, ” Ketika aku masih remaja, aku dibawa oleh Nazi dengan segerombolan orang dalam kereta api. Malam datang dan udara sangat dingin di gerbong itu.
Tentara Nazi menurunkan kami di sisi rel semalaman, tanpa makanan. Tidak ada selimut untuk menghangatkan kami. Angin dingin membawa salju menerpa pipi kami. Ada ratusan orang bersama kami pada malam yang sangat dingin itu. Tidak ada makanan. Tidak ada air. Tidak ada tempat berlindung. Tidak ada selimut “.

“Darah di tubuh kami mulai membeku.
Di sebelah aku, ada seorang lelaki tua yang baik dari kota asalku. Dia menggigil dari kepala hingga ujung kaki, dan kelihatannya kurang baik keadaannya. Jadi aku memeluknya untuk menghangatkannya.
Aku memeluknya erat-erat untuk memberinya panas. Aku menggosok lengannya, kakinya, wajahnya, lehernya. Aku memohon padanya supaya semangat, bertahan untuk hidup.
Sepanjang malam, aku membuat pria ini tetap hangat.
Aku lelah, dan kedinginan. Jari-jariku seperti mati rasa, tetapi aku tidak berhenti menggosokkan panas ke tubuh lelaki tua itu.
Jam demi jam berlalu. Akhirnya, pagi datang dan matahari mulai
bersinar. Aku melihat sekeliling untuk melihat orang lain.”

Mengerikan sekali, yang bisa kulihat hanyalah tubuh yang membeku disertai kesunyian yang mematikan.
Tidak ada orang lain yang hidup. Malam yang dingin itu membunuh mereka semua.

Hanya dua orang yang selamat: pria tua itu dan aku.

Pria tua itu selamat karena aku menghangatkannya, dan aku bertahan hidup karena aku menghangatkannya.

Izinkan aku memberi tahumu rahasia untuk bertahan hidup di dunia ini…

💚 Saat kamu menghangatkan hati orang lain, kamu akan tetap menghangatkan dirimu sendiri.

💚 Ketika kamu mendukung, mendorong, dan menginspirasi orang lain, maka kamu akan menemukan dukungan, dorongan dan inspirasi dalam kehidupanmu sendiri juga.
💚Ketika kamu baik untuk orang lain kamu baik untuk dirimu sendiri.
💚Ketika kamu membuat orang bahagia, orang akan membuat kamu bahagia

Ini berlaku untuk siapa saja : suami isteri, orang tua dan anak, teman bergaul, antar teman sejawat, dll.

Orang yang paling bahagia di dunia ini adalah mereka yang mampu memberi, bukan mereka yang hanya menerima dan meminta.

From :
A Frozen Nightly Frozen (A True Story)

✒️Satria Hadi Lubis


Oleh : Ledhia Rukmana

“Pantang keluar kamar mandi tanpa wudhu, setelah berhadast.”

Sebuah program kecil yang mencoba sedang di istiqomahkan dan benar-benar sangat menantang. Heboh anak-anaknya, emak nya pun tak mau kalah. Kehebohan berlipat ketika tiba-tiba ingin berhadast saat sudah siap mau berpergian, apalagi jika sudah memasuki musim dingin yang suhunya bisa mencapai 4 derajat.
Berbagai pemakluman kadang mulai terdengar dari alasan karena tanggunglah, lupalah, kedinginanlah sampai alasan sayang sudah berpakaian rapi dan bermakeup(red: bedak).
Namun, dengan terus mengobarkan semangat, saling mengingatkan dan menguatkan azzam antara sesama anggota keluarga, kami yakin bisa melalui tantangan itu dan berharap bisa goal, istiqomah.

Apakah yang melatarbelakangi sehingga tercetus program ini?
Menyimak berbagai tausyiah dan membaca berbagai buku yang menjelaskan dan mengupas tuntas tentang dawwam wudhu dan berbagai keutamaannya, hingga sampai mengungkapkan rahasia membuka 8 pintu surga, itulah yang menjadi alasannya. Di antaranya adalah :

Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala,
“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. Al Baqarah: 222)

Kemudian kutipan hadist,
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Jika seorang hamba muslim –atau mukmin- berwudhu, saat ia membasuh wajahnya, maka akan keluar dari wajahnya setiap dosa yang ia lihat bersama dengan air –atau tetesan air terakhir.
Saat ia membasuh kedua tangannya, maka akan keluar dari kedua tangannya setiap dosa yang ia perbuat dengan kedua tangannya bersama dengan air –atau bersama tetesan air terakhir. Saat ia membasuh kedua kakinya, maka akan keluar setiap dosa yang dilangkahkan oleh kakinya bersama air –atau bersama tetesan air terakhir, hingga ia dalam keadaan bersih dari dosa-dosa.” (HR Muslim: 244)

Darinya juga, ia berkata, “Aku mendengar kekasihku bersabda, “Perhiasan seorang mukmin sesuai dengan air wudhu yang sampai kepada anggota tubuhnya.” (HR Muslim: 250).

MasyaAllah, jika seseorang terus-menerus(dawwam) dalam keadaan suci atau berwudhu. Yaitu tatkala wudhu batal, kemudian kembali berwudhu lagi. Batal, wudlu lagi, begitu seterusnya.
Keadaan seperti itu akan mudah bagi kita untuk melakukan ibadah. Terlebih jika kita saat ini berperan sebagai seorang ibu. Kala kita ingin membaca Al Qur’an dan memegang mushaf, kita bisa langsung membacanya. Atau tiba-tiba mood anak kita lagi bagus dan mau belajar atau menghafal Qur’an maka bisa langsung melakukannya.
Kala sudah tiba waktu sholat, yang biasanya banyak drama kalau punya anak balita, maka dengan mudah pula kita bisa melakukannya, tinggal mencari strategi agar kita bisa shalat khusyu atau malah mungkin bisa berjamaah bersama anak-anak di awal waktu. Pun ketika kita akan melakukan apapun, semuanya akan berlipat pahala dan emosi kita lebih terjaga karena kita punya wudhu.

Tentang keutamaan orang yang selalu menjaga wudhu ini, teringat ada kisah keren yang sudah sangat Viral(dikenal) di kalangan kaum muslimin.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Bilal,
“Wahai Bilal, ceritakanlah kepadaku tentang satu amalan yang engkau lakukan di dalam Islam yang paling engkau harapkan pahalanya, karena aku mendengar suara kedua sandalmu di surga.”
Bilal menjawab, “Tidak ada amal yang aku lakukan yang paling aku harapkan pahalanya daripada aku bersuci pada waktu malam atau siang pasti aku melakukan shalat dengan wudhu tersebut sebagaimana yang telah ditetapkan untukku.”
(Muttafaqun ‘alaih)(HR. Bukhari, no. 443 dan Muslim, no. 715)

Allahu Akbar, berwudhu itu amalan ringan tapi jika terus-menerus dilakukan, Allah menjanjikan balasan yang tidak tanggung-tanggung.

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir Al-Juhaniy radhiyallahu ‘anhu,ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Tidaklah seseorang berwudhu dan menyempurnakan wudhunya, lalu shalat dua rakaat dengan sepenuh hati dan jiwa melainkan wajib baginya (mendapatkan) surga.” (HR. Muslim, no. 234)

Dan ada yang lebih dasyat lagi dari hadist diatas, ada amalan ringan yang menjadi rahasia besar yang tak terduga, dan mungkin selama ini jarang dilakukan ketika berwudhu.

Dari ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu; ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Siapa yang berwudhu dengan memperbagus wudhunya lalu ia mengucapkan,
‘ASY-HADU ALLA ILAAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIKALAH WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN ‘ABDUHU WA ROSULUH, ALLOHUMMAJ’ALNII MINATTAWWAABIINA WAJ’ALNII MINAL MUTATHOHHIRIIN’
(artinya: Aku bersaksi bahwasanya tiada sesembahan yang benar kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Ya Allah, jadikanlah aku hamba yang bertaubat dan jadikanlah aku sebagai orang yang bersuci),
dengan ia membacanya melainkan akan dibukakan baginya delapan pintu surga, ia akan masuk lewat pintu mana saja yang ia mau.” (HR. Tirmidzi, no. 55).

Allah sungguh Maha Pemurah, Dia sangat tahu diri kita. Di tengah segala kelemahan, keterbatasan dan kerempongan kita, Dia memberikan jalan ringan dan mudah yang semua orang bisa melakukannya.
Dia memberikan jalan ke surga, surga yang sama dengan hamba-hamba shaleh yang Allah dan Rasul-Nya sendiri yang menjaminnya, surga yang sama yang setiap jiwa kita ingin dikumpulkan disana.

Mungkin kita tak bisa mengejar amalan para shalafus shaleh, tapi semoga Allah menganugerahkan surga yang dijanjikan-Nya, wasilahnya dengan jalan mendawwamkan wudhu ini.
So, marilah kita jangan sendiri, ajak pula semua keluarga, agar kelak kita bisa bersama kembali di surga-Nya.
Tetaplah beramal shaleh hanya karena Allah, dan teruslah berdoa istiqomah dijalan-Nya, di tetapkan dalam keimanan dan hidayah islam hingga saat menutup mata untuk terakhir kalinya.

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Ada seorang Guru Kehidupan, Pak Bagus namanya.

Beliau adalah seorang guru yang sangat ceria,menyenangkan dan kocak.

Siapapun yang berada di dekatnya akan merasa nyaman dan gembira..

Keunikannya adalah bahwa ia selalu berkata, “Bagus itu..!” untuk segala hal.
Di matanya segala hal yang terjadi di dunia ini adalah Karunia.

Hujan..?
“Bagus itu, banyak berkah, saatnya berdoa..”

Sakit..?
“Bagus itu, saatnya untuk beristirahat..”

Tidak naik kelas..?
“Bagus itu, jadi kamu bisa belajar lebih dalam..”

Dipecat..?
“Bagus itu, saatnya belajar sungguh-sungguh untuk menjadi pengusaha..”

Disisi lain, ia seorang perfeksionis luar biasa
Ia bisa melihat kesalahan sampai titik koma sekalipun. Bedanya dengan guru lain_, ia tak pernah marah hanya gara-gara kurang titik koma.

Ia akan memberikan masukan dengan sangat teliti…
“Tulisan kamu bagus itu” Kamu cukup kritis dan analitis. Supaya lebih sempurna, coba pelajari bagaimana cara memilih dan menyusun kata-kata agar lebih meyakinkan”.

“Bagus itu” tak pernah ketinggalan.

Baginya semua murid punya kelebihannya masing-masing.
Tak ada yang bodoh, tak ada yang kurang ajar.
Semua “bagus” dan bisa dibantu untuk menjadi “lebih bagus lagi”.

Disinilah perannya sebagai seorang guru, untuk memberdayakan muridnya agar bisa mengeluarkan potensi terbesarnya.

  • Sebagai guru ia memilih untuk menjadi fasilitator, bukan instruktur.
  • Ia memilih untuk bertanya, bukan memerintah.
  • Ia memberdayakan, bukan mengoreksi.

Hal yang sama juga dilakukannya atas semua temannya.
Tidak ada korban gosip dimatanya, karena semua orang “bagus” dan “hebat.”
Ia bisa melihat kebaikan dari semua hal sampai hal terkecil sekalipun.

Pak Bagus tak bisa dibilang ganteng, tapi melihat wajahnya semua orang merasa teduh. Wajah yang selalu tersenyum..

Ia tak bisa dibilang kaya raya, tapi ia selalu sejahtera, selalu bisa berbagi dan menempatkan tangan di atas.

Rejekinya adaaaaa saja. Seakan keberuntungan selalu ada dipihaknya.
“Hoki”, kata orang.

Ia jarang sakit dan keluarganya pun jarang sakit. Jadi sebagai keluarga, hemat sekali mereka..

Itulah dia Pak Bagus, sebuah karunia bagi semua yang ada di sekitarnya.

Karena ketika berada di dekatnya, kita tak bisa mengeluh, tak bisa bergossip, tak bisa marah.., toh itu semua akan dijawab dengan, “Bagus itu..!”

Nah, teman-teman.. Kalau ada yang mau mengeluh, bayangkan ada Pak Bagus di samping anda dan langsung saja bilang dalam hati, “Bagus itu..!”

Nanti otak kita akan langsung mencerna dan mencari “bagusnya di mana ya..?”.
Otak kita pintar kok. Ia akan bekerja menyesuaikan diri dengan kata-kata kita..!

Kalau ada orang mau nggossip di dekat kita, langsung jawab,
“Bagus itu. Kita bisa ambil hikmahnya.., Sekarang kamu punya jalan untuk dapat pahala kan..?”

Kalau ada yang kesal gara-gara kehilangan barang,
“Bagus itu., Siapa tahu kamu kurang sedekah…
Bagus cuma kehilangan barang itu, Kalau Tuhan ambil yang lebih besar bagaimana..?”

Semua bagus…!

Karena semua kejadian terjadi atas izin-Nya dan dihadirkan oleh-Nya untuk kebaikan kita semua.

Kita saja yang seringkali sulit mencari hikmah di balik semua kejadian..

Semua orang pun sesungguhnya baik adanya, karena diciptakan oleh Sang Maha Bagus.

Semua bagus. Semua indah..!

Maaf tulisannya agak panjang ya…!? Sudah selesai bacanya…..??

Bagus itu..!

Sumber : cerita motivasi dan inspirasi


Saudaraku
Hidayah itu mahal dan berharga
Sangat beruntung orang yang mendapat hidayah
Dia merasakan kebahagiaan dunia-akhirat
Kebahagiaan hati, ketentraman jiwa dan ketenangan yang sejati

Hidayah itu bukan ditunggu
Menunggu waktu tua dahulu
Menunggu sukses dunia dahulu
Menunggu anak dewasa dan mandiri dahulu

Hidayah itu dijemput dengan segera
Karena taubat tidak menunggu ajalmu
Bukan lambat asal selamat
Tapi cepat agar selamat di akhirat

Hanya orang yang bersungguh-sungguh lah yang mendapatkan hidayah
Allah berfirman,

“Orang-orang yang bersungguh-sungguh (berjuang) di jalan Kami, sungguh akan Kami berikan petunjuk (hidayah) kepada mereka untuk istiqamah di jalan Kami. (QS. Al-Ankabut: 69).

Ibnul Qayyim menjelaskan ayat di atas, beliau berkata:

“Allah menggantungkan/mengkaitkan hidayah dengan perjuangan/jihad. Manusia yang paling sempurna hidayahnya adalah yang paling besar jihadnya. Jihad yang paling utama yaitu jihad mendidik jiwa, jihad melawan hawa nafsu, jihad melawan setan dan jihad melawan fitnah dunia.” [Al-Fawaid, hlm. 59]

Bersungguh-sungguh lah
melawan nafsu dunia dan syahwat yang menipu
Melawan gengsi dunia dan sombong
Melawan kerasnya hati

Bagaimana cara menjemput hidayah:

Datangi kajian dan sumber ilmu, karena hidayah dan hijrah itu harus dengan ilmu
Segera ganti dengan teman-teman yang baik dan shalih
Baca buku tata cara shalat dan perbaiki cara shalatmu
Ambil Al-Quran yang lama berdebu, bacalah dengan lama sejenak
Infaknya sebagian hartamu
Sedekahlah sembunyi-sembunyi, semoga bisa meredam murka Allah

Segera kunjungi anak yatim, usap lah kepalanya dan santuni
Ziarah ke kubur dan renungkan lah engkau akan menyusul dan dilupakan manusia
Berkunjunglah ke orang sakit dan lihat mereka menyesal tidak bisa beramal banyak lagi
Kunjungi panti jumpo, lihat mereka menyesal menyia-nyiakan masa muda dengan huru-hara

Tidak lupa berdoa kepada Allah di sepertiga malam memohon hidayah kepada Allah
Semoga kita semua mendapatkan hidayah dari Allah


Semoga keluarga, teman dan kaum muslimin mendapatkan hidayah terbaik

@ Yogyakarta Tercinta

Penyusun: Raehanul Bahraen

Artikel www.muslimafiyah.com


Bismillahir Rahmanir Rahiim…

Assalamualaikum

اللهم صلى على سيدنا محمد وعلى آله واصحابه وسلم

Setiap hari yang datang adalah hari yang berharga.

Semoga kita senantiasa berada dalam rahmat, taufik dan hidayah Nya

┈••✾•◆❀◆•✾••┈•┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈

BERSANGKA BAIKLAH KEPADA ALLAH…

Seorang pemuda yang soleh telah mengalami keadaan yang amat tenat dan sedang hampir menghadapi sakaratul maut. Dia sempat bertanya kepada ibunya yang sedang duduk di sisinya

“Ibu, jika urusan perhisaban di akhirat nanti diberikan kepadamu, bagaimanakah bentuk perhitungan yang ibu akan lakukan terhadapku?”

Pemuda ini bertanya bagaimana ibunya akan menghisab anaknya sendiri seandainya tugas menghisab amalan itu diserahkan kepada ibunya.

Maka ibunya menjawab “Anakku, sudah tentu ibu akan tunjukkan kasih sayangku terhadapmu, ibu akan merahmatimu dengan kelembutanku”

Si pemuda menitiskan air matanya, terharu dengan jawapan oleh ibundanya yang amat mencintainya namun tangisan si pemuda adalah kesedarannya bahawa Allah mencintai dirinya melebihi cinta ibunya terhadapnya.

Rasulullah saw bersabda “Sesungguhnya Allah mengasihi hambaNya 70 kali lebih hebat dari seorang ibu mengasihi anaknya”

Seandainya seorang ibu tidak sanggup melihat anaknya terbakar didalam api inikan pula Allah yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang dan Maha Mengampuni.

Si pemuda berkata kepada ibunya “Ibu, Allah sebutkan dalam Al-Qur’an mengenai suasana hari Mahsyar kelak Dan segala suara akan tunduk senyap sunyi lagi sepi terhadap ar-Rahman (Maha Pengasih)”

Allah tidak mengatakan “…terhadap al-Jabbar(Maha Keras Perkasa) sungguhpun pada ketika itu adalah hari yang penuh penzahiran keperkasaanNya sehingga seluruh manusia gerun dengan kemurkaanNya.

Namun Allah menzahirkan diriNya sebagai ar-Rahman supaya tidak ada manusia didunia ini yang berputus asa dari rahmatNya”.

Sabda Rasulullah saw “Janganlah ada diantara kalian yang mati sehingga kalian bersangka baik kepada Allah Azza wa Jalla”

•══◎◎♡◎◎══•

رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِيْ صَغِيْرًا

Ya Allah, ampunilah aku dan kedua orang tuaku, serta berilah rahmat kepada kedua-duanya, sebagaimana mereka mendidikku pada waktu kecil. Aamiin.

@quotephotovideo

%d blogger menyukai ini: