Feeds:
Pos
Komentar

Renungan Pagi

HATI DAN LIDAH HEWAN KURBAN

Seorang wanita dermawan yang sudah berumur telah memberi seekor kambing kepada Luqmanul Hakim

Dia meminta Luqman menyembelih kambing itu dan berpesan

“Berilah bagian yang terburuk darinya untuk saya makan”

Setelah Luqman menyembelih kambing itu, dia pun menghantar hati dan lidahnya kepada wanita tersebut

Beberapa hari kemudian wanita itu memberikan lagi seekor kambing untuk disembelih

Kali ini dia berpesan untuk memberinya bagian yang terbaik dari kambing itu

Setelah disembelih, Luqman menghantar hati dan lidah juga kepada wanita itu

Wanita itu keheranan dan bertanya kepada Luqman,

“Mengapakah tuan menghantar lidah dan hati kepada saya

ketika meminta bagian yang terburuk

Dan mengapa kedua-duanya juga dihantar kepada saya ketika memesan menghantar bagian yang terbaik?”

Luqman menjawab:

“Hati dan lidah sangat baik ketika Ia baik, dan apabila keduanya buruk maka sangatlah buruk!”

Mendengar jawaban yang bijaksana itu, wanita itu lalu memahami maksud Luqman

Sebabnya hati dan lidah adalah pokok segala kebaikan, begitu juga sebaliknya, dari hati dan lidah juga lahir segala kejahatan dan keburukan

Oleh karena itu hati dan lidah adalah puncak segala kejahatan dan kebaikan

Jagalah hati kita dan jagalah lidah kita

Semoga Manfaat 🙏🙏

Iklan

Nutrisi Pagi

Istriku….
Sesungguhnya yang aku TAKUTKAN jika aku bertemu ALLAH kelak, diantaranya adalah :
Allah akan meminta pertanggung jawaban kepadaku tentang keadaan Istriku selama di Dunia… Seperti apa yang pernah disabdakan oleh Rosululloh Shallallohu ‘Alaihi wa Sallam (yang artinya) :
“Setiap kalian adalah Pemimpin. Dan setiap Pemimpin akan diminta pertanggung jawaban apa yang kalian Pimpin….”

Bagaimana pengajaran dari ku kepada Istriku tentang masalah Agama ini.. Apa yang sudah aku Ajarkan kepada nya mengenai Pemahaman Agama yang Mulia ini..
Seberapa jauh istriku mengetahui dan memahami ‘Aqidah terutama mengenai permasalahan Tauhid dan Sunnah… Bagaimana masalah Sholat dan Puasanya…?

Sudahkah aku mengenalkan kepadanya Bahaya Syirik dan Bid’ah.. Sudahkah aku memperingatkan kepadanya bahaya Tabarruj, Bahaya Ikhtilat dan Bahaya membangkang kepada Suami..
Sudahkah aku mengenalkan bagaimana cara menggunakan hijab yg sesuai syar’i…

Istriku…
sungguh akupun tak mampu memikul beban dosa yg aku miliki…
bagaimana aku sanggup memikul beban dosamu karena kelalaianku membimbingmu…

Istriku…
jika dirimu benar benar sayang terhadapku
Taatlah terhadapku yg ingin selalu mengajakmu untuk mengikuti syariatnya..

Istriku… aku sungguh menyayangimu…dan sayangku padamu bukan hanya di dunia tp aku ingin berlanjut hingga kesyurganya kelak..

Istriku… sungguh aku takut dengan permintaan tanggung jawabku terhadapmu di depan rabbku…
Dan mungkin masih banyak lagi….

Istriku… bantu agar Allah swt mempermudah hisabku dengan ketaatanmu….

Semoga Alloh Ta’ala senantiasa menjaga kami selalu Istiqomah di atas Islam dan Sunnah sampai Ajal memanggil (kematian datang)……
Aamiin Allahuma Aamiin…

Sumber: kajian Ustadz Arif Rahman Lubis .

📜Teh_iyang

Oleh: Ustadz Muzakir

Setelah kami teliti di literatur aslinya (kitab2 hadits). Ternyata hadits itu memang ada dan shohih. Terutama hadits Riwayat Ummu Salamah ra.:

عن سَعِيد بْنَ الْمُسَيِّبِ، يَقُولُ: سَمِعْتُ أُمَّ سَلَمَةَ زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، تَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “مَنْ كَانَ لَهُ ذِبْحٌ يَذْبَحُهُ فَإِذَا أَهَلَّ هِلالُ ذِي الْحِجَّةِ فَلا يَأْخُذَنَّ مِنْ شَعْرِهِ وَلا مِنْ أَظْفَارِهِ شَيْئًا حَتَّى يُضَحِّيَ”.

Dari Sa’id bin al Musayyib, saya mendengar Ummu Salamah –Istri Nabi SAW– berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Siapa saja yang berniat menyembelih qurban, bila telah masuk awal Dzulhijjah (1 Dzulhijjah), maka janganlah menggunting rambut & memotong kukunya sebelum dia menyembelih hewan qurban itu”.

Larangan mencukur rambut dan memotong kuku dalam hadits tsb, ditujukan kpd orang yg hendak berqurban, dan hewan qurban telah ada padanya saat tgl 1 Dzulhijjah tiba. Jadi larangan tsb berlaku sejak tgl 1 Dzulhijjah hingga hewan qurban selesai disembelih. Waktu menyembelih qurban dari tgl 10 Dzulhijjah selepas sholat Iedul Adha hingga terbenam matahari pd tgl 13 Dzulhijjah.

Namun demikian, ada perbedaan pandangan di kalangan ulama dalam masalah ini yg perlu kami sampaikan:

Pertama, Imam Abu Hanifah & ulama2 besar yg mengikuti mazhab fiqih beliau berpendapat, boleh menggunting rambut & memotong kuku. Bila hal itu dilakukan tdk apa2 dan tdk ada konsekwensi hukumnya.

Kedua, ada jg sebagian murid Imam Abu Hanifah berpendapat, dianjurkan utk tdk menggunting rambut & memotong kuku. Tp bila ada yg melakukan itu, tdk ada konsekwensi hukumnya. Dan tdk menjerumuskannya pd pelanggaran yg menyebabkan dosa.

Ketiga, Ulama2 kenamaan di kalangan mazhab Syafi’i & Maliki serta sebagian Hambali berpendapat, Sunnah hukumnya utk tdk menggunting rambut & memotong kuku. Krn demikian itu yg dilakukan para sahabat hingga tiba hari Nahr (hari menyembelih qurban). Bila hal ini dilanggar, maka hukumnya menjadi MAKRUH. Artinya, bila dikerjakan tidak apa2, tapi bila ditinggalkan mendapat pahala. Makruh lawan kata dari sunnat. Utk konteks ini, bhs fiqih nya (مكروه كراهية التنزيه).

Keempat, Imam Ahmad bin Hanbal dan ulama2 yg sependapat dgn beliau mengatakan, haram hukumnya menggunting rambut & memotong kuku. Bila dilanggar, maka ia berdosa.

Dari empat pendapat diatas, intinya bisa disimpulkan menjadi dua opsi;

. 1. Membolehkan siapa saja yg ingin menyembelih qurban utk menggunting rambut & memotong kuku nya. Artinya, org tsb tdk berdosa. Dan ini pendapat mayoritas (jumhur) ulama.

2. 2. Mengharamkan menggunting rambut & memotong kuku bagi siapa saja yg ingin menyembelih qurban. Ini pendapat ulama Hanbali. Yg mana menjadi pendapat yg dipilih oleh (http://alistiqomah.web.id/larangan-mencukur-rambut-dan-memotong-kuku-bagi-shohibul-qurban-alaihi-wa-sallam-26.htm)

Dan menjadikan zhohir (tekstual) hadits Ummu Salamah r.ah diatas sebagai dasar hukumnya.

Sementara jumhur ulama mendasari pendapat mrk pada hadits Aisyah r.ah yg jg sangat shohih:

عن عائشة رضي الله عنها قالت: فتلتُ قلائدَ هدي النبي صلى الله عليه وسلم, ثم أشعـرها, وقـلَّدهـا ـ أو قــلَّدتُها ـ, ثــم بَعَثَ بها إلى البيت, وأقام بالمدينة, فما حَرُم عليه شيءٌ كان له حِلّ. (رواه البخاري ومسلم).

Aisyah r.ah berkata: saya memintal dan mengalungkan tanda di leher hewan qurban Nabi SAW. Kemudian Nabi membiarkannya dan menuntunnya. Setelah itu beliau mengirimnya ke Baitullah di Mekkah, sementara beliau sendiri tetap tinggal di Madinah. Beliau tidak mengharamkan sesuatupun yg telah dihalalkan Allah (sebelum hewan qurban itu disembelih. pen). (HR. Bukhari & Muslim).

Ada beberapa catatan yg perlu diperhatikan:

. * Hadits diatas menyebutkan bahwa Rasulullah SAW mengirim hewan qurban beliau utk disembelih di Mekkah. Selama masa menanti tgl 10 Dzulhijjah tsb beliau tdk mengharamkan sesuatu pun atas diri nya hal2 yg di halalkan Allah, spt layaknya seseorang yg dlm kondisi ihram. Termasuk menggunting rambut dan itmemotong kuku. Aisyah r.ah –selaku istri Nabi SAW– tentu lebih tau hal2 yg paling pribadi dilakukan oleh Rasulullah SAW. Dan Aisyah r.ah termasuk salah seorng pakar fiqih yg menjadi rujukan utama para tokoh2 mazhab Ahli Sunnah wal Jama’ah.

2. * Imam Syafi’i mengomentari hadits diatas, bahwa “Dikirimnya hewan qurban Nabi ke Mekkah memiliki maksud lebih dari sekedar berqurban. Dari aspek ini disimpulkan, tdk haram menggunting rambut dan memotong kuku. Sebab bila berqurban di Tanah Haram (Mekkah) saja, nabi tdk mengharamkan atas dirinya sesuatu hal pun, maka lebih2 lagi bila berqurban di luar Mekkah.” Artinya, tdk ada konsekwensi hukum bila seorng yg ingin berqurban menggunting rambut dan memotong kuku.

3. * Hewan qurban Nabi tsb dibawah Abu Bakar r.a ke Mekkah pd tahun 9 Hijriyah, yg merupakan hewan qurban terakhir dikirim oleh Nabi SAW. Krn pd tahun berikutnya Nabi melakukan Haji Wada’. Sementara hadits Ummu Salamah muncul sebelum itu. Dengan demikian tdk ada lg asumsi bhw, hadits Aisyah dimansukh (dibatalkan) oleh hadits Ummu Salamah. Krn secara logika hadits terakhir lah yg dpt membatalkan kekuatan hukum hadits sebelumnya.

4. * Imam at-Thohawi berkata: “Hadits Aisyah diriwayatkan oleh para ahlul hadits secara mutawatir (byk pakar hadits yg meriwayatkan). Sementara hadits Ummu Salamah tdk demikian. Bahkan disinyalir ada masalah dgn sanadnya.” (Syarh Tahzib Sunan Abi Dawud oleh: Ibnul Qayyim: 4/96).

5. * Ibnu Abdul Bur (seorang ulama terkenal pd masanya) berkata: “Kalau jima’ saja (Intercourse) tdk dilarang bagi org yg berqurban, spt halnya pantangan2 ihram lainnya. Maka hal2 yg lebih kecil dari itu spt gunting rambut & potong kuku tentu lebih dibolehkan utk dilakukan.”

Dari pemaparan diatas jelaslah, masalah ini menjadi perdebatan tajam di kalangan ulama sejak dahulu. Dan akan terus diperdebatkan hingga hari Kiamat. Bila ditelusuri argumen2 mrk hampir sama kuatnya. Sebab ulama hadits yg meshohihkan hadist Ummu Salamah jg tdk sedikit.

Oleh : Ustadz Muzakkir

Oleh : KH. M. Shiddiq Al-Jawi

Pengertian Qurban
Kata kurban atau korban, berasal dari bahasa Arab qurban, diambil dari kata : qaruba (fi’il madhi) – yaqrabu (fi’il mudhari’) – qurban wa qurbânan (mashdar). Artinya, mendekati atau menghampiri (Matdawam, 1984).

Menurut istilah, qurban adalah segala sesuatu yang digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah baik berupa hewan sembelihan maupun yang lainnya (Ibrahim Anis et.al, 1972). Dalam bahasa Arab, hewan kurban disebut juga dengan istilah udh-hiyah atau adh-dhahiyah, dengan bentuk jamaknya al-adhâhi. Kata ini diambil dari kata dhuhâ, yaitu waktu matahari mulai tegak yang disyariatkan untuk melakukan penyembelihan kurban, yakni kira-kira pukul 07.00 – 10.00 (Ash Shan’ani, Subulus Salam, IV/89).

Udh-hiyah adalah hewan kurban (unta, sapi, dan kambing) yang disembelih pada hari raya Qurban dan hari-hari tasyriq sebagai taqarrub (pendekatan diri) kepada Allah (Sayyid Sabiq, Fikih Sunnah, XIII/155; Al Ja’bari, 1994).

Hukum Qurban
Qurban hukumnya sunnah, tidak wajib. Imam Malik, Asy Syafi’i, Abu Yusuf, Ishak bin Rahawaih, Ibnul Mundzir, Ibnu Hazm dan lainnya berkata,”Qurban itu hukumnya sunnah bagi orang yang mampu (kaya), bukan wajib, baik orang itu berada di kampung halamannya (muqim), dalam perjalanan (musafir), maupun dalam mengerjakan haji.” (Matdawam, 1984)

Sebagian mujtahidin –seperti Abu Hanifah, Al Laits, Al Auza’i, dan sebagian pengikut Imam Malik– mengatakan qurban hukumnya wajib. Tapi pendapat ini dhaif (lemah) (Matdawam, 1984).

Ukuran “mampu” berqurban, hakikatnya sama dengan ukuran kemampuan shadaqah, yaitu mempunyai kelebihan harta (uang) setelah terpenuhinya kebutuhan pokok (al hajat al asasiyah) –yaitu sandang, pangan, dan papan– dan kebutuhan penyempurna (al hajat al kamaliyah) yang lazim bagi seseorang. Jika seseorang masih membutuhkan uang untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut, maka dia terbebas dari menjalankan sunnah qurban (Al Ja’bari, 1994) .

Dasar kesunnahan qurban antara lain, firman Allah SWT :
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

Maka dirikan (kerjakan) shalat karena Tuhanmu, dan berqurbanlah.” (TQS Al Kautsar : 2).

أُمِرْتُ بِالنَّحْرِ وَهُوَ سُنَّةٌ لَكُمْ

“Aku diperintahkan (diwajibkan) untuk menyembelih qurban, sedang qurban itu bagi kamu adalah sunnah.”(HR.At-Tirmidzi)

كُتِبَ عَلَيَّ النَّحْرُ وَ لَيْسَ بِوَاجِبٍ عَلَيْكُمْ

“Telah diwajibkan atasku (Nabi SAW) qurban dan ia tidak wajib atas kalian.” (HR. Ad Daruquthni)

Dua hadits di atas merupakan qarinah (indikasi/petunjuk) bahwa qurban adalah sunnah. Firman Allah SWT yang berbunyi “wanhar” (dan berqurbanlah kamu) dalam surat Al Kautas ayat 2 adalah tuntutan untuk melakukan qurban (thalabul fi’li). Sedang hadits At Tirmidzi, “umirtu bi an nahri wa huwa sunnatun lakum” (aku diperintahkan untuk menyembelih qurban, sedang qurban itu bagi kamu adalah sunnah), juga hadits Ad Daruquthni “kutiba ‘alayya an nahru wa laysa biwaajibin ‘alaykum” (telah diwajibkan atasku qurban dan ia tidak wajib atas kalian); merupakan qarinah bahwa thalabul fi’li yang ada tidak bersifat jazim (keharusan), tetapi bersifat ghairu jazim (bukan keharusan). Jadi, qurban itu sunnah, tidak wajib. Namun benar, qurban adalah wajib atas Nabi SAW, dan itu adalah salah satu khususiyat beliau (lihat Rifa’i et.al., Terjemah Khulashah Kifayatul Akhyar, hal. 422).

Orang yang mampu berqurban tapi tidak berqurban, hukumnya makruh. Sabda Nabi SAW:

مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحِّ فَلا يَقْرَبَنَّ مُصَلا نا

“Barangsiapa yang mempunyai kemampuan tetapi ia tidak berqurban, maka janganlah sekali-kali ia menghampiri tempat shalat kami.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah, dan Al Hakim, dari Abu Hurairah RA. Menurut Imam Al Hakim, hadits ini shahih. Lihat Subulus Salam IV/91)

Perkataan Nabi “fa laa yaqrabanna musholaanaa” (janganlah sekali-kali ia menghampiri tempat shalat kami) adalah suatu celaan (dzamm), yaitu tidak layaknya seseorang -yang tak berqurban padahal mampu– untuk mendekati tempat sholat Idul Adh-ha. Namun ini bukan celaan yang sangat/berat (dzamm syanii’) seperti halnya predikat fahisyah (keji), atau min ‘amalisy syaithan (termasuk perbuatan syetan), atau miitatan jaahiliyatan (mati jahiliyah) dan sebagainya. Lagi pula meninggalkan sholat Idul Adh-ha tidaklah berdosa, sebab hukumnya sunnah, tidak wajib. Maka, celaan tersebut mengandung hukum makruh, bukan haram (lihat ‘Atha` ibn Khalil, Taysir Al Wushul Ila Al Ushul, hal. 24; Al Jabari, 1994).

Namun hukum qurban dapat menjadi wajib, jika menjadi nadzar seseorang, sebab memenuhi nadzar adalah wajib sesuai hadits Nabi SAW :

مَنْ نَذَرَ أَنْ يُطِيعَ اللَّهَ فَلْيُطِعْهُ وَمَنْ نَذَرَ أَنْ يَعْصِيَهُ فَلا يَعْصِهِ

“Barangsiapa yang bernadzar untuk ketaatan kepada Allah, maka hendaklah ia melaksanakannya. Barangsiapa yang bernadzar untuk kemaksiatan kepada Allah, maka janganlah ia melaksanakannya.” (HR al-Bukhari, Abu Dawud, al-Tirmidzi).

Qurban juga menjadi wajib, jika seseorang (ketika membeli kambing, misalnya) berkata,”Ini milik Allah,” atau “Ini binatang qurban.” (Sayyid Sabiq, 1987; Al Jabari, 1994).

Keutamaan Qurban
Berqurban merupakan amal yang paling dicintai Allah SWT pada saat Idul Adh-ha. Sabda Nabi SAW

مَا عَمِلَ ابْنُ آدَمَ يَوْمَ النَّحْرِ عَمَلًا أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ هِرَاقَةِ دَمٍ

“Tidak ada suatu amal anak Adam pada hari raya Qurban yang lebih dicintai Allah selain menyembelih qurban.” (HR. At Tirmidzi) (Abdurrahman, 1990)

Berdasarkan hadits itu Imam Ahmad bin Hambal, Abuz Zanad, dan Ibnu Taimiyah berpendapat,”Menyembelih hewan pada hari raya Qurban, aqiqah (setelah mendapat anak), dan hadyu (ketika haji), lebih utama daripada shadaqah yang nilainya sama.” (Al Jabari, 1994).

Tetesan darah hewan qurban akan memintakan ampun bagi setiap dosa orang yang berqurban. Sabda Nabi SAW :

يا فاطمة قومي فاشهدي اضحيتك فانه يغفر لك باول قطرة تقطر من من دمها كل ذنب عملته

“Hai Fathimah, bangunlah dan saksikanlah qurbanmu. Karena setiap tetes darahnya akan memohon ampunan dari setiap dosa yang telah kaulakukan…” (HR al-Baihaqi, lihat Sayyid Sabiq, Fikih Sunnah XIII/165)

Waktu dan Tempat Qurban

a.Waktu
Qurban dilaksanakan setelah sholat Idul Adh-ha tanggal 10 Zulhijjah, hingga akhir hari Tasyriq (sebelum maghrib), yaitu tanggal 13 Zulhijjah. Qurban tidak sah bila disembelih sebelum sholat Idul Adh-ha. Sabda Nabi SAW:

مَنْ ذَبَحَ قَبْلَ الصَّلَاةِ فَإِنَّمَا ذَبَحَ لِنَفْسِهِ وَمَنْ ذَبَحَ بَعْدَ الصَّلَاةِ فَقَدْ تَمَّ نُسُكُهُ وَأَصَابَ سُنَّةَ الْمُسْلِمِينَ

“Barangsiapa menyembelih qurban sebelum sholat Idul Adh-ha (10 Zulhijjah) maka sesungguhnya ia menyembelih untuk dirinya sendiri. Dan barangsiapa menyembelih qurban sesudah sholat Idul Adh-ha, maka sesungguhnya ia telah menyempurnakan ibadahnya (berqurban) dan telah sesuai dengan sunnah (ketentuan) Islam.” (HR. Bukhari)

Sabda Nabi SAW :

كُلُّ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ ذَبْحٌ

“Semua hari tasyriq (tanggal 11, 12, dan 13 Zulhijjah) adalah waktu untuk menyembelih qurban.” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban)

Menyembelih qurban sebaiknya pada siang hari, bukan malam hari pada tanggal-tanggal yang telah ditentukan itu. Menyembelih pada malam hari hukumnya sah, tetapi makruh. Demikianlah pendapat para imam seperti Imam Abu Hanifah, Asy Syafi’i, Ahmad, Abu Tsaur, dan jumhur ulama (Matdawam, 1984).

Perlu dipahami, bahwa penentuan tanggal 10 Zulhijjah adalah berdasarkan ru`yat yang dilakukan oleh Amir (penguasa) Makkah, sesuai hadits Nabi SAW dari sahabat Husain bin Harits Al Jadali RA (HR. Abu Dawud, Sunan Abu Dawud hadits no.1991). Jadi, penetapan 10 Zulhijjah tidak menurut hisab yang bersifat lokal (Indonesia saja misalnya), tetapi mengikuti ketentuan dari Makkah. Patokannya, adalah waktu para jamaah haji melakukan wukuf di Padang Arafah (9 Zulhijjah), maka keesokan harinya berarti 10 Zulhijjah bagi kaum muslimin di seluruh dunia.

b.Tempat
Diutamakan, tempat penyembelihan qurban adalah di dekat tempat sholat Idul Adh-ha dimana kita sholat (misalnya lapangan atau masjid), sebab Rasulullah SAW berbuat demikian (HR. Bukhari). Tetapi itu tidak wajib, karena Rasulullah juga mengizinkan penyembelihan di rumah sendiri (HR. Muslim). Sahabat Abdullah bin Umar RA menyembelih qurban di manhar, yaitu pejagalan atau rumah pemotongan hewan (Abdurrahman, 1990).

Hewan Qurban
a.Jenis Hewan
Hewan yang boleh dijadikan qurban adalah : unta, sapi, dan kambing (atau domba). Selain tiga hewan tersebut, misalnya ayam, itik, dan ikan, tidak boleh dijadikan qurban (Sayyid Sabiq, 1987; Al Jabari, 1994). Allah SWT berfirman:

لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ

“…supaya mereka menyebut nama Allah terhadap hewan ternak (bahimatul an’am) yang telah direzekikan Allah kepada mereka.” (TQS Al Hajj : 34)
Dalam bahasa Arab, kata bahimatul an’aam (binatang ternak) hanya mencakup unta, sapi, dan kambing, bukan yang lain (Al Jabari, 1994).
Prof. Mahmud Yunus dalam kitabnya Al Fiqh Al Wadhih III/3 membolehkan berkurban dengan kerbau (jamus), sebab disamakan dengan sapi.

b.Jenis Kelamin
Dalam berqurban boleh menyembelih hewan jantan atau betina, tidak ada perbedaan, sesuai hadits-hadits Nabi SAW yang bersifat umum mencakup kebolehan berqurban dengan jenis jantan dan betina, dan tidak melarang salah satu jenis kelamin (Sayyid Sabiq, 1987; Abdurrahman, 1990)

c.Umur
Sesuai hadits-hadits Nabi SAW, dianggap mencukupi, berqurban dengan kambing/domba berumur satu tahun masuk tahun kedua, sapi (atau kerbau) berumur dua tahun masuk tahun ketiga, dan unta berumur lima tahun (Sayyid Sabiq, 1987; Mahmud Yunus, 1936).

d.Kondisi
Hewan yang dikurbankan haruslah mulus, sehat, dan bagus. Tidak boleh ada cacat atau cedera pada tubuhnya. Sudah dimaklumi, qurban adalah taqarrub kepada Allah. Maka usahakan hewannya berkualitas prima dan top, bukan kualitas sembarangan (Rifa’i et.al, 1978)

Berdasarkan hadits-hadits Nabi SAW, tidak dibenarkan berkurban dengan hewan :

yang nyata-nyata buta sebelah,

yang nyata-nyata menderita penyakit (dalam keadaan sakit),

yang nyata-nyata pincang jalannya,

yang nyata-nyata lemah kakinya serta kurus,

yang tidak ada sebagian tanduknya,

yang tidak ada sebagian kupingnya,

yang terpotong hidungnya,

yang pendek ekornya (karena terpotong/putus),

yang rabun matanya. (Abdurrahman, 1990; Al Jabari, 1994; Sayyid Sabiq. 1987).

Hewan yang dikebiri boleh dijadikan qurban. Sebab Rasulullah pernah berkurban dengan dua ekor kibasy yang gemuk, bertanduk, dan telah dikebiri (al maujuu’ain) (HR. Ahmad dan Tirmidzi) (Abdurrahman, 1990)

Sumber : dakwahjambi.com

oleh : Yusuf Mansur

Subhanallah walhamdulillah, karena saya sering menyuruh orang untuk bersedekah, saya diuji bertubi-tubi.’
Pendiri Daarul Qur’an Internasional School, Ustadz Yusuf Mansur, mengaku pernah lupa bahwa manusia tak boleh memastikan sesuatu yang belum terjadi. Yusuf berkisah, pada 1990 lalu, ia yakin dan telah mempersiapkan segala sesuatunya untuk menunaikan ibadah haji. Namun, menjelang hari pemberangkatan ia memliliki masalah sehingga batal ke Tanah Haram. Begitu pula pada tahun 2003. Saat itu, Yusuf kembali memiliki segala persiapan untuk berangkat ke Arab Saudi. Namun karena terganjal masalah keluarga, lagi-lagi ia batal untuk menunaikan ibadah haji.
”Astaghfirullah. Saya pernah lupa sudah merasa yakin dan memastikan hal yang belum terjadi. La haula wala kuwata illah billah,” ujarnya. Tahun 2005, media massa kerap menggunakan gelar haji yang melekat pada dirinya. ”Padahal waktu itu saya belum berhaji. Alhamdulillah, itu saya anggap sebuah doa,” ujarnya. Ia pun sengaja tidak mengklarifikasi masalah itu karena gelar haji memotivasinya untuk terus memohon agar Allah mengijinkannya berhaji.
Setahun kemudian, sebuah travel terkemuka menawarkan dirinya untuk menunaikan ibadah haji secara gratis. Ia pun diamanahkan untuk menjadi pimpinan rombongan. Ia sempat menolak lantaran belum pernah menunaikan haji. Namun pihak travel terus mendesak ustadz yang pernah keranjingan balap motor ini. Akhirnya, ia pun setuju dan iklan pun dipajang untuk mengajak masyarakat berangkat haji bersamanya. Pendaftaran para calon jamaah haji pun mengalir. Antusias masyarakat yang ingin pergi bersamanya begitu tinggi.
Tapi Allah masih berkehendak lain. Menjelang pemberangkatan, pihak travel membatalkan dengan alasan jika belum berhaji tidak diizinkan memimpin rombongan. Akhirnya, pihak travel menawarkan diri nya menjadi jamaah lebih dulu, dan tahun berikutnya menjadi pemimpin rombongan. Tapi tawaran tersebut tak lagi gratis namun mendapat diskon hampir setengah harga. Pria kelahiran Jakarta, 19 Desember 1976 ini mengaku sempat menangis. Bukan karena biaya gratis yang dibatalkan. Ia khawatir merasa membohongi masyarakat dan membuat kecewa banyak calon jamaah.
Namun ia lebih sedih lantaran Allah tak jua memanggilnya untuk ke Tanah Suci. Ayah empat putra tersebut hampir saja khilaf dan memarahi pimpinan travel. Tapi ia terus bersabar dan bertawakal. Penggarap juga pemain film Kun Fa Yakuun ini sempat pesimis dirinya tak kan pernah berhaji. Yusuf sempat trauma membicarakan masalah haji, tapi kemudian bangkit lagi. Ia kemudian menyerahkan keinginan mulianya kepada Sang Khalik.
Di tengah kondisi yang kurang mengenakkan, tiba-tiba seorang sahabatnya dari luar kota datang dan hendak meminjam uang sebesar Rp 40 juta. Uang tersebut akan digunakan sahabatnya memberangkatkan saudaranya ke Tanah Suci. Karibnya itu memberi jaminan sebuah mobil tua yang kalau dijual harga tertingginya sekitar Rp 30 juta.
”Subhanallah walhamdulillah, karena saya sering menyuruh orang untuk bersedekah, saya diuji bertubi-tubi,” ujarnya. Dengan kesabaran dan keikhlasan, ia pun memberikan uang tersebut kepada kawannya. Sedangkan mobil tua itu ia biarkan saja. Yusuf sempat bertanya pada Allah tentang hikmah apa yang ada dibalik semua ujian kegagalannya berhaji. Setelah pendaftaran haji 2006 ditutup, ia pun pasrah. Tapi diluar dugaan, ia bertemu dengan seorang Habib keturunan Arab yang mengajaknya makan siang.
Di akhir pertemuannya, sang Habib menanyakan kapan berangkat haji. ”Saya cuma katakan, tidak jadi berangkat. Tidak punya uang,” ujarnya. Allah kemudian menunjukkan Kuasa-Nya. Di saat pendaftaran haji sudah tutup, ia bersama istrinya justru berangkat ke Tanah Haram. Yusuf pun semakin sadar apa yang ada dalam persepsi manusia tidak sepenuhnya benar. Ia pun semakin merasakan kehebatan sedekah yang luar biasa. ”Allah memiliki skenario terbaik,” tuturnya.

By Ammi Nur Baits –

Surat Mahram, itu Penipuan?

Arab saudi membuat aturan setiap perjalanan haji atau umrah harus ada mahramnya. Nah, prakteknya di indonesia, hampir semua travel membuat surat mahram bohong-bohongan… bagaimana hukumnya? Melakukan trik untuk mensiasati syarat administrasi mahram?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Kebijakan pemerintah saudi dengan menetapkan mahram bagi para wanita yang hendak berangkat haji atau umrah itu berdasarkan panduan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dari Abu Daid al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تُسَافِرِ الْمَرْأَةُ يَوْمَيْنِ إِلاَّ مَعَهَا زَوْجُهَا أَوْ ذُو مَحْرَمٍ

Wanita tidak boleh melakukan safar selama 2 hari, kecuali disertai suaminya atau mahramnya. (HR. Bukhari 1197).

Dalam riwayat lain, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَحِلُّ لاِمْرَأَةٍ تُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ أَنْ تُسَافِرَ مَسِيرَةَ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ لَيْسَ مَعَهَا حُرْمَةٌ

Tidak halal bagi wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk melakukan safar selama sehari semalam, sementara dia tidak ditemani mahramnya. (HR. Bukhari 1088).

Bahkan, mengingat pentingnya mahram dan pendamping bagi wanita ketika safar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah meminta salah seorang sahabat untuk menunda keikut sertaannya dalam jihad. Agar bisa menemani istrinya ketika hendak haji…

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma menceritakan, ada seorang sahabat melapor kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّى أُرِيدُ أَنْ أَخْرُجَ فِى جَيْشِ كَذَا وَكَذَا، وَامْرَأَتِى تُرِيدُ الْحَجَّ

Ya Rasulullah, saya ingin tergabung dengan pasukan perang ini.. tapi istriku ingin pergi haji.

Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

اخْرُجْ مَعَهَا

“Berangkatlah haji bersama istrimu.” (HR. Bukhari 1862).

Karena islam memuliakan wanita…

Bentuk penjagaan islam terhadap wanita, adanya SOP bagi wanita yang melakukan safar. Sebagaimana pejabat ketika keluar rumah, dia diikat dengan SOP protokoler. Bukan dalam rangka mengganggu kebebasan mereka. Namun untuk menjaga kehormatan dan keselamatan mereka.

Secara nurani, sekalipun orang tidak tahu dalil, ketika ada wanita yang melakukan safar sendirian, orang yang melihatnya akan merasa ada yang kurang. Bahkan bisa jadi akan muncul dugaan buruk, suudzan kepada wanita itu.

Kita layak bersyukur kepada Allah, ketika situs-situs haji ditangani oleh pemerintahan yang sangat perhatian dengan aturan islam.. semoga Allah menjaga mereka.

Surat Mahram

Yang lebih penting dalam mahram bukan masalah surat. Surat hanya persyaratan administrasi, sebagi bukti bahwa wanita yang masuk tanah suci ini, benar-benar ditemani oleh suaminya atau mahramnya.

Yang sangat memprihatinkan, ketika surat ini justru menjadi peluang terjadinya penipuan. Terutama ketika ada jamaah wanita yang berangkat tanpa diiringi suaminya atau mahramnya. Untuk tetap bisa lolos, travel haji atau umrah membuat surat mahram palsu…

Ini jelas penipuan. Semua yang terlibat, dia menanggung dosanya…

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا

Siapa yang menipu kami (umat), maka dia bukan bagian dari kami. (HR. Muslim 294)

Dalam riwayat lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ غَشَّ فَلَيْسَ مِنِّى

“Siapa yang menipu, maka dia bukan bagian dariku.” (HR. Muslim 295)

Pendidikan itu Penting!

Kata kunci pendidikan selalu dibutuhkan dimana-mana. Tidak ada ujungnya. Sepanjang masih ada kehidupan, long life education. Terkadang ada travel yang misi besarnya hanya mencari untung. Siapapun jamaah, siap tampung, sekalipun wanita muda yang hendak berangkat tanpa mahram. Urusan mahram, bisa pake surat mahram. Sehingga penipuan memang sudah jadi rencana sejak awal. Mungkin travel ini didirikan…

Ada juga travel yang sudah berusaha melakukan yang terbaik. Ingin sesuai dengan sunah, namun sayang jamaahnya kurang diedukasi. Sehingga ada sebagian wanita yang dengan jumawa tetap nekad berangkat haji atau umrah tanpa mahram, dengan siasat surat mahram.

Karena itu, edukasi untuk semuanya itu penting.. agar semuanya satu frekuensi. Baik travel maupun jamaah harus sama-sama menyadari bahwa dalam perjalanan ini harus ada mahram. Travel siap mendelay keberangkatan jamaah wanita yang tanpa mahram. Sebaliknya, jamaah wanita juga siap untuk mengundurkan diri, jika ternyata dia tidak bisa berangkat karena kendala mahram.

Agar kebiasaan menipu, tidak terlalu menjamur di negara kita…

Semoga Allah memberi petunjuk kepada kita semuanya untuk tetap di atas jalan kebenaran…

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Read more https://konsultasisyariah.com/26123-surat-mahram-perjalanan-haji-dan-umrah-itu-penipuan.html

Bismillahir Rahmanir Rahiim…

Assalamualaikum dan Selamat Pagi

اللهم صلى على سيدنا محمد وعلى آله واصحابه وسلم

Setiap hari yang datang adalah hari yang berharga.

Semoga kita senantiasa berada dalam rahmat, taufik dan hidayah Nya

Perbaikilah HATI. Hati yang baik adalah harapan untuk ke syurga

Segala puji bagi Allah, Tuhan sekelian alam. Selawat serta salam buat junjungan mulia Nabi Muhammad SAW keluarga serta para sahabat dan pengikut yang istiqamah menuruti baginda hingga ke hari kiamat.

💧 ZIKIR

Zikir merupakan amalan yang sangat ringan bahkan boleh dilakukan tanpa wudhu.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tidaklah seorang manusia mengamalkan satu amalan yang lebih menyelamatkan dirinya dari adzab Allah dari zikrullah.” (HR.Ahmad)

💧 MENCARI ILMU

Seseorang yang mencari Ilmu, Allah akan memudahkan jalan menuju syurga.

“Barangsiapa yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu maka Allah akan memudahkan jalannya menuju syurga.” (HR.Muslim)

💧 MENAHAN AMARAH

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barangsiapa yang menahan kemarahannya padahal dia mampu untuk melampiaskannya maka Allah Ta’ala akan memanggilnya (membanggakannya) pada hari kiamat di hadapan semua manusia sampai (kemudian) Allah membiarkannya memilih bidadari bermata jeli yang disukainya.” (HR. Abu Dawud)

💧 MEMBACA AYAT KURSI

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesiapa membaca ayat Kursi setiap selesai solat, tidak ada yang menghalangnya masuk syurga selain kematian.” (HR. An-Nasai)

💧 MENYINGKIRKAN GANGGUAN DI JALAN

Hal yang sangat kecil, tidak bermodal namun balasannya syurga..

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda,

“Sesungguhnya aku telah melihat seseorang lalu lalang di syurga dibawah suatu pohon yang ia potong ketika di dunia kerana pohon itu mengganggu perjalanan manusia.” (H.R. Muslim)

💧 MEMBELA KEHORMATAN MUSLIM

“Barangsiapa yang membela kehormatan saudaranya muslim maka Allah akn memalingkan /menjauhkan wajahnya dari neraka pada hari Kiamat.” (HR. An Nasai)

💧 MENJAUHI PERDEBATAN

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Aku menjamin sebuah rumah di pinggir jannah (syurga) bagi siapa saja yang meninggalkan perdebatan berpanjangan meskipun ia dalam kebenaran (al haq), juga sebuah rumah di tengah jannah bagi siapa saja yang meninggalkan berbohong walaupun ia sedang bergurau, serta sebuah rumah di puncak jannah bagi siapa saja yang berakhlak mulia.” (HR. Abu Dawud)

💧 BERWUDHU

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Barangsiapa yang berwudhu lalu berdoa,
‘Asyhadu allaa ilaaha illallah wahdahu laa syarikalahu wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluhu‘
Aku bersaksi bahawa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan aku bersaksi bahawa Nabi Muhammad adalah hamba dan RasulNya), dibukakan untuknya pintu-pintu syurga yang delapan, dan dia dapat masuk dari pintu manapun yang diinginkannya. (HR. Muslim)

💧 SOLAT DI MASJID

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Barangsiapa bersuci dirumahnya lalu dia berjalan menuju salah satu dari rumah Allah (masjid) untuk menunaikan kewajipan yang telah Allah wajipkan, maka salah satu langkah kakinya akan menghapus dosa dan langkah kaki lainnya akan meninggikan darjatnya.” (HR. Muslim)

💥 Semoga Allah memberikan Taufiq kepada kita semua agar dapat mengamalkan dan menyampaikannya kepada yang lain.

#copas

%d blogger menyukai ini: